Suasana Dusun Krajan, Desa Srigading, Kecamatan Lawang mendadak tegang. Puluhan orang dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah datang “meluruk” sebuah rumah mewah milik warga berinisial PR pada Jumat (20/2/2026). Kedatangan mereka bukan tanpa alasan: menagih janji atas uang miliaran rupiah yang raib dalam bisnis popok bayi fiktif.
Kasus yang kini telah bergulir di Polda Jawa Timur ini melibatkan PR dan kaki tangannya, SL, warga asal Jakarta. Para korban awalnya tergiur dengan tawaran produk kebutuhan harian seperti popok bayi, mie instan, hingga tisu dengan harga miring di bawah pasar.
Siti Fitriyah (32), salah satu korban asal Kota Batu, mengaku terjebak setelah melihat adanya peluang keuntungan besar untuk dijual kembali. “Awalnya bisnis berjalan lancar untuk membangun kepercayaan. Kami makin yakin karena ada selisih harga yang lumayan,” ungkap Fitriyah getir, Sabtu (21/2/2026).
Modus “Bangun Kepercayaan” Berujung Zonk
Namun, kepercayaan itu hanyalah umpan. Setelah para korban mulai menyetor uang dalam jumlah besar, pengiriman barang mulai “seret” sejak Februari 2025. Fitriyah sendiri harus menelan pil pahit setelah uang sebesar Rp810 juta yang ia setor untuk Pre-Order (PO) menguap tanpa jejak.
Ironisnya, saat Fitriyah mulai mencari tahu, ia menemukan fakta mengejutkan: ia tidak sendirian. Ada sekitar 20 orang dari Pasuruan, Sidoarjo, Kediri, Surabaya, Gresik, hingga Grobogan yang senasib dengannya. Total kerugian kolektif dalam satu grup saja diperkirakan menembus Rp5 miliar.
Ingkar Janji di Atas Materai
Langkah hukum sebenarnya sudah diambil sejak Mei 2025. Dalam mediasi di Polda Jatim akhir tahun lalu, PR sempat menunjukkan itikad baik secara formal. Ia menandatangani surat di atas materai yang berjanji akan mengganti seluruh kerugian korban pada 26 Januari 2026.
Namun, janji tinggallah janji. Hingga tenggat waktu berakhir, sepeser pun uang tak kembali. “Dia sanggupi cover semua, tapi nyatanya diingkari. Padahal janji itu dibuat di atas materai,” tegas Fitriyah.
Lebih mengkhawatirkan lagi, para korban menduga PR masih aktif mencari mangsa baru dengan modus serupa di luar sana. Meluruknya puluhan korban ke rumah PR kemarin adalah bentuk keputusasaan sekaligus peringatan keras bagi pelaku yang hingga kini seolah tak tersentuh janji manisnya sendiri.