Suasana khusyuk usai salat subuh di asrama Ditsamapta Polda Sulawesi Selatan berubah menjadi duka mendalam pada Minggu (22/2/2026). Bripda DP, seorang polisi muda yang baru setahun mengabdi, dinyatakan meninggal dunia secara tragis setelah sempat mengeluh sakit dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, mengonfirmasi bahwa Bripda DP mulai terlihat tidak sehat tepat setelah menunaikan ibadah subuh. Ia segera dilarikan ke RSUD Daya Makassar, namun nyawanya tidak tertolong saat menjalani perawatan medis.
Kejanggalan muncul dari informasi yang beredar di lapangan. Pemuda asal Pinrang yang lulus bintara pada 2025 ini diduga mengalami kekerasan fisik sebelum mengembuskan napas terakhir.
“Habis salat subuh, dia bersama dua orang senior dan satu rekan seangkatannya. Tiba-tiba kondisinya drop,” ungkap Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Zulham Efendy.
Propam Turun Tangan: Enam Sakit Diperiksa
Menanggapi isu miring mengenai dugaan penganiayaan oleh senior, Bidang Propam Polda Sulsel bergerak cepat. Hingga Minggu malam, sebanyak enam anggota polisi telah diperiksa secara intensif untuk memastikan fakta di balik kejadian tersebut.
“Kami sedang mendalami kasus ini dan telah memeriksa enam orang. Kami tidak ingin berspekulasi dan masih menunggu hasil autopsi dari RS Bhayangkara untuk memastikan penyebab pasti kematian korban,” tegas Kombes Zulham.
Momen memilukan terlihat di RS Bhayangkara Makassar. Sang ayah, Aipda Muhammad Jabir—yang juga merupakan anggota kepolisian—tampak tegar namun tak kuasa menyembunyikan kesedihan mendalam menanti jenazah putra kebanggaannya.
Kehadiran keluarga besar dari Pinrang menegaskan tuntutan mereka akan transparansi dalam pengungkapan kasus ini.