Dinginnya es di Milano Ice Skating Arena mendadak hangat pada Sabtu malam (21/2/2026). Tanpa juri, tanpa tekanan poin, dan tanpa papan skor, para dewa-dewi es dunia berkumpul untuk satu tujuan: merayakan kebebasan.
Gala eksibisi Olimpiade Musim Dingin 2026 menjadi penutup puitis selama dua setengah jam yang memadukan keindahan teknis dengan drama kemanusiaan yang mendalam.
Acara dibuka dengan anggun oleh legenda Italia, Carolina Kostner. Di usia 39 tahun, sang duta Milano Cortina ini meluncur sebagai simbol inspirasi, menjembatani sejarah masa lalu dengan ambisi generasi masa depan.
Namun, suasana berubah drastis saat sang “Quad God,” Ilia Malinin, naik ke lintasan. Mengenakan hoodie abu-abu sederhana, ia membawakan lagu “Fear” milik NF. Malinin mengubah es menjadi kanvas kesehatan mental, menggambarkan pergulatannya dengan ekspektasi media sosial setelah kegagalan pahit di nomor perorangan.
Gerakannya yang menepis notifikasi imajiner, diikuti dengan quadruple jump dan backflip yang eksplosif, memicu standing ovation yang mengharukan. Malam itu, Malinin tidak menangkap medali, ia menangkap kembali jiwanya.
Kung Fu Panda dan Kejutan Jackie Chan
Kontras dengan drama Malinin, juara emas kejutan asal Kazakhstan, Mikhail Shaidorov, mengocok perut penonton dengan tampil mengenakan kostum panda lengkap! Dalam balutan kostum “Kung Fu Panda”, ia melakukan pertarungan pura-pura melawan “Deadpool” dan “Sub-Zero”, bahkan tetap mampu mendaratkan lompatan triple.
Puncak kemeriahan terjadi saat aktor legendaris Jackie Chan muncul di pinggir arena, memeluk sang “Panda” Shaidorov di tengah gemuruh tawa penonton—sebuah momen absurd sekaligus ikonik yang hanya bisa terjadi di panggung Olimpiade.
Era Emas Alysa Liu dan Perpisahan Tim USA
Bagi Tim USA, malam ini adalah pesta kemenangan. Alysa Liu, yang baru saja mengakhiri dahaga emas tunggal putri Amerika selama 24 tahun, tampil memukau dengan kostum biru bertabur cincin Olimpiade. Ia bersama rekan setimnya—termasuk Madison Chock dan Evan Bates—mengguncang arena dengan medley lagu-lagu rock legendaris dari Queen hingga Beyoncé.
Sementara itu, Amber Glenn membawakan “That’s Life” dari Lady Gaga, sebuah ode bagi kariernya yang penuh dengan ketangguhan dan kebangkitan dramatis.
Gala ditutup secara kolosal saat seluruh atlet turun ke es diiringi aransemen orkestra “Viva La Vida” milik Coldplay. Di bawah lampu sorot Assago, mereka melakukan backflip bersama, berpose selfie, dan bercanda tawa—sejenak melupakan rivalitas demi kecintaan pada olahraga yang menyatukan mereka.
Sebelum bilah sepatu es terakhir meninggalkan arena, sebuah pesan tersampaikan dengan jelas: di balik persaingan medali yang sengit, selalu ada kegembiraan murni yang menjadi alasan mereka mulai meluncur sejak kecil.