JAKARTA – Pemerintah Inggris menolak memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk memanfaatkan pangkalan militernya dalam operasi potensial melawan Iran. Penolakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Teheran dan ancaman serangan dari Washington.
Menurut laporan The Times yang dikutip berbagai media internasional, AS sedang menyusun rencana penggunaan RAF Fairford di Gloucestershire basis utama armada pesawat pengebom berat Amerika di Eropa—serta Diego Garcia di Samudra Hindia untuk mendukung serangan terhadap fasilitas Iran jika diperlukan.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah membahas isu ini dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melalui pembicaraan pada Selasa (17/2/2026). Pejabat Inggris khawatir bahwa persetujuan tersebut berpotensi melanggar hukum internasional, terutama jika serangan dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa jika Iran menolak membuat kesepakatan, Amerika Serikat mungkin perlu menggunakan Diego Garcia dan RAF Fairford untuk menghadapi potensi ancaman dari rezim yang dianggap tidak stabil dan berbahaya. Trump juga mengancam aksi militer jika Iran menolak membatasi program nuklirnya. AS telah memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal perang, pesawat tempur, dan aset lainnya sebagai persiapan.
Sebelumnya, kedua pangkalan tersebut pernah digunakan AS untuk operasi di kawasan Timur Tengah. Namun, RAF Fairford dan Diego Garcia tidak terlibat dalam serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Saat itu, sumber senior pertahanan Inggris menyatakan Washington tidak meminta izin terlebih dahulu.
Baru-baru ini, AS memanfaatkan RAF Fairford dan pangkalan Inggris lainnya untuk operasi merebut kapal tanker Bella 1 awal tahun ini, dengan dukungan penuh dari London. Pemerintah Inggris membenarkan operasi tersebut sesuai hukum internasional.
Berdasarkan perjanjian bilateral jangka panjang, AS wajib meminta persetujuan terlebih dahulu sebelum menggunakan pangkalan militer Inggris untuk operasi ofensif terhadap negara ketiga.
Seorang juru bicara pemerintah Inggris menyatakan, “Ada proses politik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, yang didukung oleh Inggris. Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir, dan prioritas kami adalah keamanan di kawasan ini.”
Penolakan ini menambah ketegangan diplomatik antara dua sekutu dekat, sementara negosiasi AS-Iran terus berlangsung di bawah tekanan ancaman militer.