JAKARTA – Janice Tjen kini menjadi simbol kebangkitan tenis putri Indonesia setelah menembus level elite Tur Dunia WTA lewat lonjakan karier yang dramatis dan konsisten dalam dua musim terakhir.
Nama Janice Tjen mendadak menjadi sorotan utama tenis Asia berkat progres ranking yang melesat tajam, gelar WTA bersejarah, serta performa stabil di tunggal dan ganda.
Berdasarkan rilis Asosiasi Tenis Wanita (WTA) terbaru, Senin (23/2/2026), peringkat Janice Tjen naik 10 tangga ke peringkat ke-36 dunia.
Kisah Janice Tjen bukan sekadar cerita talenta muda, melainkan narasi lengkap tentang transisi mulus dari dominasi kampus menuju panggung profesional dunia yang sarat tekanan dan ekspektasi.
Fondasi Kuat Sejak Jakarta
Lahir di Jakarta pada 6 Mei 2002 dengan tinggi 171 cm dan bermain tangan kanan, Janice dibentuk dalam sistem latihan disiplin bersama pelatih Chris Bint yang berperan penting dalam memoles transisinya dari atlet kampus menjadi petenis profesional kompetitif.
Dengan postur proporsional serta dasar permainan ganda yang solid, Janice mengembangkan gaya agresif berbasis timing dan akurasi penempatan bola sehingga tak bergantung semata pada kekuatan pukulan.
Karakter bermainnya menunjukkan kedewasaan taktik yang jarang dimiliki pemain seusianya, terutama dalam membaca ritme pertandingan dan mengontrol reli panjang.
Ledakan Performa ITF 2024
Musim 2024 menjadi titik akselerasi karier Janice ketika ia memborong tujuh gelar tunggal ITF dan dua gelar ganda ITF dengan rekor impresif 39 kemenangan dan hanya 3 kekalahan.
Ia bahkan dua kali mencatatkan rangkaian 15 kemenangan beruntun, menjadikan turnamen ITF bukan sekadar ajang pengumpulan poin melainkan panggung dominasi penuh.
Saat banyak pemain muda masih berjuang menembus babak utama, Janice justru tampil sebagai figur dominan yang memperlihatkan kesiapan menuju level lebih tinggi.
Raja Kampus yang Tuntas dengan Prestise
Perjalanan Janice di dunia tenis profesional tidak dibangun dengan jalan instan, karena keterbatasan biaya kompetisi membuatnya bersama keluarga memilih jalur tenis perguruan tinggi sebagai strategi realistis menembus level elite.
Janice kemudian mengambil kesempatan emas melalui beasiswa atletik NCAA (National Collegiate Athletic Association) di Amerika Serikat, sebuah sistem kompetisi kampus yang dikenal kompetitif dan menjadi inkubator lahirnya atlet profesional.
Lewat skema tenis perguruan tinggi NCAA tersebut, Janice bukan hanya mengasah kemampuan teknik dan mental bertanding, tetapi juga memastikan masa depan akademiknya tetap terjamin di tengah ketatnya persaingan olahraga.
Awalnya ia memperkuat tim tenis Universitas Oregon sebelum akhirnya mengambil keputusan penting pada 2021 untuk pindah dan membela tim Pepperdine Waves di Universitas Pepperdine, langkah yang terbukti menjadi titik lonjakan kariernya.
Bersama Pepperdine Waves, Janice berkembang menjadi salah satu andalan tim hingga menuntaskan pendidikannya pada 2024 dengan gelar Sarjana Sosiologi, membuktikan keseimbangan antara prestasi akademik dan performa olahraga.
Prestasi puncaknya di level NCAA tercatat saat ia melaju hingga partai final nomor ganda dan finis sebagai runner-up NCAA Doubles 2024 bersama Savannah Broadus, capaian yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain kampus paling kompetitif musim itu.
Keberhasilan tersebut menjadi fondasi penting bagi langkah Janice menuju jenjang profesional, karena sistem kompetisi NCAA terbukti memberinya jam terbang tinggi, pengalaman bertanding level nasional, serta eksposur yang dibutuhkan untuk menatap panggung lebih besar.
Terobosan WTA 2025 yang Mengubah Sejarah
Musim 2025 menjadi bab penting ketika Janice langsung menembus final di Sao Paulo dalam tur utama keduanya sebelum merebut gelar WTA pertama di Chennai pada penampilan main draw keempatnya.
Gelar di Chennai menjadikannya petenis Indonesia pertama yang menjuarai tunggal WTA sejak Angelique Widjaja menang di Pattaya 2002, sekaligus mengakhiri penantian panjang lebih dari dua dekade.
Sepanjang tahun yang sama, peringkat dunianya melesat dari 411 ke posisi tertinggi 53, memperlihatkan kurva perkembangan yang ekstrem namun konsisten.
Produktif di Ganda dan WTA 125
Tak hanya di tunggal, Janice juga menunjukkan produktivitas tinggi di sektor ganda dengan merebut gelar WTA 125 Suzhou bersama Aldila Sutjiadi pada 2025.
Di level WTA Tour, ia menjuarai Guangzhou bersama Piter serta kembali meraih trofi di Chennai berduet dengan Aldila, sebelum mempertahankan reputasinya lewat gelar Hobart 2026 bersama Piter.
Pada nomor tunggal, tambahan gelar WTA 125 Jinan 2025 mempertegas kapasitasnya sebagai spesialis hard court Asia yang berbahaya.
Sorotan Grand Slam dan Jejak Junior
Debut main draw Grand Slam terjadi di US Open 2025 ketika ia lolos dari babak kualifikasi dan langsung menyingkirkan unggulan ke-24 Veronika Kudermetova sebelum dihentikan Emma Raducanu di babak kedua.
Mental kompetitifnya sejatinya telah teruji sejak 2019 ketika ia mengoleksi sembilan gelar junior nasional serta meraih emas tunggal dan perak ganda di ASEAN School Games Semarang.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa fondasi juaranya telah terbangun jauh sebelum sorotan global datang.
Harapan Baru Tenis Indonesia
Rangkaian prestasi berjenjang dari level junior, sekolah kawasan, kampus, ITF, hingga WTA membentuk Janice sebagai produk pembinaan matang yang bukan sekadar fenomena sesaat.
Di tengah kerinduan publik terhadap ikon tenis baru, Janice Tjen menghadirkan optimisme realistis bahwa Indonesia dapat kembali bersaing reguler di Tur Dunia WTA baik di nomor tunggal maupun ganda.
Momentum yang ia ciptakan kini menempatkannya bukan hanya sebagai prospek Asia, tetapi sebagai wajah baru tenis Indonesia di panggung global.***