KYIV, UKRAINA – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah memicu Perang Dunia III melalui invasi berkepanjangan terhadap negaranya. Pernyataan keras ini disampaikan Zelensky dalam wawancara eksklusif dengan BBC, menjelang peringatan empat tahun agresi Rusia skala penuh, Selasa (24/2/2026).
“Saya percaya bahwa Putin telah memulainya. Pertanyaannya adalah berapa banyak wilayah yang akan mampu dia rebut dan bagaimana menghentikannya,” kata Zelensky kepada BBC, dikutip Selasa (24/2/2026).
Menurut Zelensky, Rusia tidak hanya menargetkan Ukraina, melainkan berupaya memaksakan gaya hidup berbeda kepada dunia internasional serta mengubah pilihan hidup masyarakat global. Ia memperingatkan bahwa Ukraina hanyalah sasaran awal, dan Putin tidak akan berhenti jika tidak dihentikan secara tegas.
Zelensky mendesak komunitas internasional untuk segera memperkuat tekanan militer dan ekonomi guna membatasi kemampuan perang Rusia. Ia menolak keras tuntutan Moskow yang mengharuskan Ukraina menyerahkan sekitar 20 persen wilayahnya, khususnya di wilayah Donetsk, sebagai prasyarat gencatan senjata.
Ditanya apakah tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan 20 persen wilayah Donetsk sebagai syarat gencatan senjata merupakan permintaan yang masuk akal, Zelensky menegaskan bahwa ia tidak melihatnya sekadar sebagai isu wilayah.
“Saya melihatnya sebagai pengabaian, melemahkan posisi kita, meninggalkan ratusan ribu rakyat yang tinggal di sana. Begitulah cara saya melihatnya. Dan saya yakin bahwa ‘penarikan’ ini memecah belah masyarakat kita,” ujarnya.
Bagi Zelensky, menghentikan ambisi ekspansi Putin dan mencegah pendudukan penuh atas Ukraina akan menjadi kemenangan bagi seluruh dunia. Ia menekankan bahwa membiarkan Rusia menguasai wilayah tambahan hanya akan memperbesar risiko konflik global yang lebih luas.
Meski demikian, Zelensky menegaskan komitmennya untuk merebut kembali seluruh wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, meskipun proses tersebut memerlukan waktu. Ia mengakui tingginya biaya dari operasi militer besar-besaran saat ini.
“Melakukannya hari ini berarti kehilangan sejumlah besar orang, jutaan orang, karena tentara Rusia sangat besar, dan kita memahami ongkos dari langkah-langkah tersebut,” tuturnya.
Zelensky juga menyoroti kendala utama yang dihadapi pasukan Ukraina, yakni kekurangan sistem pertahanan udara untuk menangkal serangan udara Rusia yang masif. Ia mengkritik lambatnya dukungan dari sekutu dalam hal produksi mandiri senjata canggih.
“Sayangnya, mitra-mitra kami belum memberikan izin untuk memproduksi sistem sendiri, misalnya sistem Patriot, bahkan rudal untuk sistem yang sudah kita miliki. Sejauh ini, kami belum berhasil dalam hal ini,” ujarnya.
Pernyataan Zelensky ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global menjelang hari jadi invasi Rusia pada 24 Februari 2022, sekaligus menegaskan sikap tegas Kyiv bahwa perdamaian hanya mungkin dicapai tanpa mengorbankan kedaulatan dan integritas wilayah.