YOGYAKARTA – Kemarahan publik terhadap dugaan kekerasan aparat kembali memuncak di Yogyakarta. Ratusan massa dari elemen masyarakat dan mahasiswa mendatangi Markas Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa (24/2/2026) malam, memprotes kematian seorang remaja berusia 14 tahun di Tual, Maluku Tenggara.
Tragedi tersebut terjadi pada Kamis (19/2/2026), ketika seorang pelajar bernama Arianto Tawakkal tewas setelah diduga dihantam helm taktikal oleh oknum anggota Brimob Polda Maluku, Bripda Mesias Siahaya (MS). Korban, siswa Madrasah Tsanawiyah, meninggal dunia setelah mendapat perawatan di rumah sakit setempat. Insiden ini memicu gelombang protes nasional, termasuk di Yogyakarta, karena dianggap sebagai bukti kegagalan reformasi Polri dalam melindungi hak asasi manusia.
Salah satu peserta aksi, UD, menyatakan, “Aksi ini adalah bentuk kemarahan masyarakat Yogyakarta terhadap tragedi di Maluku. Ada anak 14 tahun yang tidak bersalah, sedang mengendarai motor, tiba-tiba kepalanya dihantam helm hingga tewas.”
Demonstrasi yang dimulai sekitar pukul 18.00 WIB berlangsung secara spontan tanpa tuntutan tertulis resmi, panggung orasi, atau struktur organisasi formal. Massa dari berbagai kampus seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta bergabung dengan warga sipil, menunjukkan luapan kekecewaan yang murni.
Ketegangan meningkat drastis pukul 18.43 WIB ketika massa merangsek ke gerbang timur Mapolda DIY. Barikade water barrier dibongkar, dan desakan massa yang semakin solid menyebabkan pintu gerbang roboh. Insiden ini menjadi simbol kemarahan tak terbendung atas dugaan kekerasan sistemik di tubuh kepolisian.
Sebagian demonstran kemudian mencoret tembok luar markas dengan berbagai tulisan protes, termasuk “All Cops Are Bastard” dan “Pembunuh”. UD menegaskan, “Masyarakat Yogyakarta menyadari bahwa persoalan ini bukan sekadar perilaku oknum, melainkan masalah institusional. Aksi hari ini adalah wadah bagi kami untuk meluapkan kekecewaan mendalam tersebut.”
Situasi semakin mencekam sekitar pukul 19.55 WIB, ketika suara ledakan keras terdengar dari arah kerumunan. Massa yang sebelumnya bertahan di depan gerbang roboh langsung panik dan berhamburan ke arah barat serta timur Jalan Ring Road Utara. Teriakan kepanikan memenuhi lokasi, sementara arus lalu lintas di sekitar Polda DIY dialihkan total demi keamanan.
Hingga kini, penyebab ledakan tersebut belum teridentifikasi secara pasti, baik dari pihak kepolisian maupun saksi mata. Aksi ini mencerminkan keresahan mendalam masyarakat terhadap janji reformasi Polri yang dinilai belum membuahkan perubahan signifikan, terutama setelah insiden serupa di masa lalu.
Polda DIY belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi lengkap dan respons terhadap kerusakan fasilitas. Demonstrasi berakhir dengan penyerahan beberapa mahasiswa yang sempat diamankan kembali ke pihak rektorat kampus masing-masing.