JAKARTA – Di era digital yang semakin cepat berubah, cara brand membangun citra dan menarik perhatian konsumen juga ikut berevolusi. Salah satu fenomena terbaru yang menarik perhatian praktisi pemasaran adalah bagaimana Gen Z menggabungkan dunia gaming dengan strategi pemasaran kreatif untuk memperkuat citra brand di ruang digital. Pendekatan ini bukan sekadar tren sesaat, tetapi telah menunjukkan potensi nyata dalam menjangkau audiens muda yang kritis, selektif, dan sangat aktif secara online.
Salah satu alasan kenapa strategi yang menggabungkan elemen video game sangat efektif adalah karena gaming sudah menjadi bagian hidup Gen Z. Menurut studi, 81% Gen Z gamers pernah atau mau bermain game dari brand non-gaming, seperti pengalaman berinteraksi dengan merek di platform virtual seperti Roblox, dan 68% bahkan mempertimbangkan membeli item bermerek di dalam game. Hal ini menunjukkan bahwa gaming bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang baru bagi mereka berinteraksi dengan brand.
Dari Ruang Game ke Branding: Bukan Iklan Konvensional
Gen Z secara umum kurang tertarik dengan iklan tradisional, terutama iklan yang terasa “mengganggu pengalaman bermain”. Survei terhadap lebih dari 2.000 pemain menemukan bahwa 43% Gen Z gamer merasa iklan dalam game itu mengganggu, terutama bila muncul tanpa konteks kreatif yang menyenangkan. Namun, mereka tidak keberatan sama sekali jika merek memberikan pengalaman yang terasa organik dengan gameplay atau komunitas itu sendiri.
Banyak brand besar telah memahami dinamika ini dan mulai menggunakan gaming integrations sebagai bagian dari kampanye pemasaran mereka. Misalnya, Sebuah brand kecantikan internasional, misalnya, menghadirkan mini-game interaktif di platform dunia virtual populer. Dalam kampanye tersebut, pemain dapat mencoba produk secara digital, menyelesaikan tantangan, dan berbagi hasil kreasi mereka. Kampanye itu menghasilkan puluhan juta impresi dan jutaan sesi interaksi, menunjukkan bahwa audiens muda bersedia terlibat ketika promosi dikemas sebagai pengalaman, bukan sekadar pesan penjualan.
Contoh lain datang dari sebuah jaringan kedai kopi global yang menciptakan ruang virtual berbentuk kafe interaktif. Pengguna dapat menjelajahi area digital, mengikuti tantangan, serta mengumpulkan hadiah virtual. Strategi ini mengubah fungsi promosi menjadi pengalaman eksploratif yang terasa menyenangkan dan tidak memaksa.
Pendekatan seperti ini efektif karena mengubah peran brand dari “pengiklan” menjadi “bagian dari permainan”. Gen Z lebih mudah menerima kehadiran brand ketika mereka merasa memiliki kontrol atas interaksi tersebut.
Gamification: Elemen Permainan dalam Marketing
Salah satu istilah yang mulai sering muncul dalam pemasaran adalah gamification yaitu memasukkan elemen permainan ke dalam pengalaman non-game seperti marketing campaign, loyalty program, atau konten digital. Gen Z menyukai gamified experiences karena unsur hiburan dan tantangannya menambah keterlibatan lebih tinggi dibanding iklan biasa.
Contohnya, kampanye Burger King bernama Whopper Detour yang menggunakan pendekatan gamified untuk meningkatkan interaksi dengan aplikasi mereka. Pengguna dialihkan pada tantangan sederhana dan mendapatkan reward berupa penawaran khusus Headline tanpa konfrontasi dengan teknik iklan tradisional. Pendekatan seperti ini menunjukkan bagaimana marketing dan permainan dapat berjalan berdampingan untuk meningkatkan engagement dan membangun hubungan lebih kuat dengan audiens muda.
Selain Game: Elemen Lain yang Menarik Gen Z
Walaupun gaming menjadi fokus utama, strategi pemasaran yang efektif kepada Gen Z tidak berdiri sendiri hanya pada satu aspek. Mereka tetap menempatkan konten yang otentik, relatable, dan interaktif sebagai komponen penting dalam engagement. Misalnya, konten buatan pengguna (user generated content) atau kolaborasi dengan mikro-influencer yang memiliki pengikut dekat dengan komunitas mereka sering kali lebih efektif daripada endorsement selebritas besar.
Selain itu, Gen Z dikenal sangat menghargai cerita yang autentik dan nilai pengalaman yang nyata. Mereka tidak hanya membeli produk; mereka membeli cerita dan pengalaman yang bisa mereka banggakan kepada teman atau komunitas mereka. Brand yang mampu menciptakan narasi pengalaman, dibandingkan hanya memamerkan produk, cenderung lebih cepat meraih loyalitas Gen Z.
Tantangan
Walaupun metode pemasaran yang melibatkan dunia game dan gamification terbukti efektif, tantangan terbesar untuk brand adalah memastikan pendekatannya tetap otentik dan tidak terasa seperti “jualan paksa”. Gen Z cepat mendeteksi strategi yang tidak tulus dan dapat dengan cepat mengkritik atau bahkan menjauhi brand tersebut.
Namun demikian, transformasi cara brand berkomunikasi bukanlah sekadar tren marketing sesaat, melainkan refleksi nyata dari cara konsumsi digital yang berubah. Dengan memahami ruang tempat Gen Z berinteraksi entah itu di dalam game, di media sosial interaktif, atau komunitas digital merek dapat membangun citra yang lebih kuat, relevan, dan dekat dengan konsumen masa depan. Dalam era baru ini, storytelling digital lewat pengalaman yang imersif dan interaktif akan menjadi kunci utama dalam memenangkan hati Gen Z.