Adidaya Institute merilis hasil pemetaan strategis terhadap delapan program unggulan pasangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Survei yang melibatkan 72 responden ahli—mulai dari akademisi, birokrat, tenaga kesehatan, hingga legislatif—ini dilakukan di 12 kota besar Indonesia, membentang dari Medan hingga Ternate.
Menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan wawancara mendalam yang berlangsung sejak Desember 2025 hingga Februari 2026, survei ini bertujuan untuk melihat program mana yang dianggap paling vital dalam menggerakkan roda ekonomi nasional.
Tiga ‘Mesin Utama’ Transformasi Ekonomi
Ekonom Adidaya Institute, Bramastyo Prastowo, mengungkapkan bahwa para ahli memberikan perhatian khusus pada tiga program yang dianggap sebagai engine atau mesin utama transformasi ekonomi tahun 2026. Sebanyak 43 persen responden sepakat bahwa Koperasi Desa, Kampung Nelayan, dan Pembangunan Tiga Juta Rumah adalah kunci pertumbuhan.
“Para ahli melihat tiga hal ini sebagai penggerak transformasi ekonomi Pak Prabowo yang sesungguhnya. Untuk tahun 2026, program Kampung Nelayan, 3 Juta Rumah, dan Koperasi Desa harus dikawal ketat karena memiliki efek domino (multiplier effect) yang sangat tinggi bagi perekonomian lokal dan nasional,” jelas Bramastyo.
Pemetaan Program: Antara Popularitas dan Strategis
Hasil survei Adidaya Institute juga mengelompokkan program-program unggulan lainnya ke dalam beberapa kategori berdasarkan persepsi para pakar:
-
Program Strategis (Perlu Pengawasan Intens): Koperasi Desa dan Kampung Nelayan. Meski dianggap sebagai mesin ekonomi, responden menekankan perlunya pengawasan ketat agar eksekusinya tepat sasaran dan tidak bocor.
-
Program Populer: Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diakui memiliki dampak sosial yang masif dan paling dikenal luas oleh masyarakat.
-
Program Stabil: Sekolah Rakyat dan Cek Kesehatan Gratis. Kedua program ini dinilai berjalan konsisten dan memiliki tingkat urgensi yang stabil di mata publik.
Urgensi Pengawalan di Tahun 2026
Adidaya Institute menekankan bahwa fokus pemerintah di tahun kedua masa jabatan (2026) harus mulai bergeser dari sekadar program bantuan sosial menuju penguatan struktur ekonomi kerakyatan. Pembangunan perumahan serta pemberdayaan nelayan dan desa melalui koperasi dianggap mampu menciptakan lapangan kerja baru dan menurunkan angka kemiskinan secara sistemik.
Langkah ini diharapkan dapat menjawab tantangan ekonomi global dengan memperkuat fondasi ekonomi di tingkat akar rumput, mulai dari desa hingga wilayah pesisir.