JAKARTA – Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Khususnya di bulan Ramadan, ketika banyak umat Muslim menggunakan ponsel mereka untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu berbuka, fenomena scroll tanpa henti justru semakin meningkat. Pertanyaan besar kemudian muncul: apakah kebiasaan scrolling gosip dan drama di media sosial bisa mengurangi pahala ibadah puasa?
Puasa di Zaman Digital: Tantangan Baru Pengendalian Diri
Puasa secara klasik dipahami sebagai menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, esensi puasa dalam Islam lebih luas daripada sekadar menahan lapar; puasa adalah sarana peningkatan ketakwaan dan pengendalian diri dari syahwat dan hawa nafsu. Dalam konteks era digital, “nafsu” itu meluas menjadi kebutuhan kompulsif untuk terus mengecek ponsel, membalas komentar, atau terpancing oleh konten negatif termasuk gosip dan drama online.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan menyarankan agar bulan Ramadan dimanfaatkan untuk menyebarkan konten positif dan inspiratif, serta menghindari produksi dan penyebaran konten yang bermuatan fitnah, ghibah (menggosip), adu domba, serta ujaran kebencian. Hal ini menunjukkan bahwa fokus umat Muslim seharusnya bukan sekadar konsumsi informasi, tetapi mengarahkan penggunaan media sosial kepada yang bermanfaat.
Gosip, Drama, dan Imajinasi Negatif di Ruang Digital
Dalam banyak kajian fiqih, tindakan seperti menggosip, menghina orang lain, atau menyebarkan berita bohong dianggap tidak membatalkan puasa, tetapi dapat mengurangi pahala ibadah puasa karena menyangkut pengendalian hawa nafsu dan sikap moral. Misalnya, menurut kajian fiqih puasa NU Online, hate comment, bullying, serta gosip di media sosial tetap tidak membatalkan puasa secara hukum, tetapi puasa tidak memperoleh pahala penuh bila seseorang terus terlibat dalam perilaku seperti itu.
Tak hanya itu, media sosial sering kali menyajikan konten yang bersifat menghibur tetapi dangkal atau provokatif misalnya konten gossip selebriti atau drama konflik antar netizen yang memicu emosional dan respon impulsif. Sejumlah pakar psikologi mengingatkan bahwa konsumsi media sosial yang terus-menerus, terlebih dengan konten yang tidak bermakna, dapat membuat penggunanya merasa stres, cemas, dan kehilangan fokus, termasuk dalam kegiatan ibadah.
Dampak Psikologis Scrolling tanpa Tujuan
Fenomena scroll yang tak terkontrol bukan hanya soal moral atau spiritual, tetapi juga psikologis. Penelitian dari Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental, terutama ketika konten yang dikonsumsi tidak bermanfaat atau menimbulkan emosi negatif. Konten seperti gosip, drama sensasional, atau clickbait sering memberi sedikit nilai tambah bagi pembaca selain menimbulkan reaksi emosional yang instan.
Kebiasaan scroll tanpa tujuan juga menyita waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau memperdalam ilmu agama yang justru membantu meningkatkan kualitas pahala puasa. Banyak pakar kemudian menyarankan agar umat Muslim mengatur waktu bermedia sosial, membatasi durasi, serta memilih konten yang benar-benar bermanfaat.
Adab Bermedia Sosial Selama Puasa
Selain menghindari konten negatif, ada pula ajaran terkait adab (etika) bermedia sosial saat Ramadan. Media sosial adalah cermin adab manusia; apa yang kita tulis, komentar, atau bagikan adalah representasi dari sikap spiritual dan moral kita di dunia digital. Sekali pun puasa secara hukum tetap sah selama kita menahan lapar dan haus, kualitas puasa bisa dipengaruhi oleh sikap dan perilaku kita termasuk saat berselancar di Instagram, TikTok, atau platform lain.
Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk:
-
Menjaga lisan digital: Hindari komentar pedas, status nyinyir, atau menyebarkan informasi tanpa pikir panjang.
-
Menyaring konten: Prioritaskan konten edukatif atau yang menguatkan iman.
-
Menetapkan batas waktu: Misalnya, membatasi akses media sosial di waktu sahur dan menjelang buka agar tidak mengganggu ibadah lainnya.
-
Melakukan digital detox sesekali: Mengurangi semua notifikasi atau bahkan beristirahat dari media sosial untuk meningkatkan fokus spiritual.
Bukan Sekadar Puasa Tubuh, tetapi Puasa Hati dan Pikiran
Secara umum, scrolling gosip atau drama saat puasa memang tidak membatalkan ibadah secara hukum, tetapi dapat mengurangi pahala dan kualitas puasa jika dilakukan tanpa kontrol. Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan tindakan yang tidak baik dalam kehidupan nyata maupun dalam ruang digital. Perilaku bermedia sosial yang bijak dan memilih konten yang membawa kebaikan adalah salah satu cara menjaga kualitas puasa di era media sosial seperti sekarang.