JAKARTA – Banyak orang merasa cemas akan kelaparan selama berpuasa, sehingga memilih “menabung” energi dengan menyantap makanan dalam porsi berlebih saat sahur. Namun, apakah strategi itu benar-benar efektif?
Makan Berlebihan Saat Sahur Justru Bikin Cepat Lapar
Menjelang bulan Ramadan, kekhawatiran kelaparan di siang hari sering mendorong seseorang makan sekenyang-kenyangnya saat sahur. Anggapan bahwa porsi besar akan membuat tubuh lebih tahan hingga maghrib ternyata keliru.
Dokter spesialis gizi dr. Devia Irine Putri menegaskan pentingnya mengontrol porsi. “Perhatikan porsinya dan komposisi dalam satu piring agar tetap terpenuhi kebutuhan nutrisinya dan rasa kenyangnya tahan lama. Jangan makan seperti orang kalap,” ujar dr. Devia.
Menurutnya, makan berlebihan justru membuat lambung meregang atau membesar. “Kalau terlalu banyak makan, baik di waktu sahur atau berbuka, lambung akan ter-stretch atau membesar. Akibatnya, Anda malah bisa sering merasakan lapar di waktu-waktu berikutnya,” jelas dr. Devia Irine.
Efek lain yang sering muncul adalah rasa begah dan tidak nyaman di perut. Dengan kata lain, kebiasaan “kalap” saat sahur bisa menjadi bumerang yang membuat puasa terasa lebih berat.
Sahur Tetap Wajib, Tapi Tak Perlu Berlebihan
Sahur bukan sekadar ritual, melainkan kunci menjaga stamina dan kesehatan selama puasa. dr. Sepriani Timurtini Limbong menekankan bahaya melewatkan sahur.
“Puasa tanpa sahur akan membuat tubuh kehilangan glukosa. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko hipoglikemia, yakni rendahnya kadar gula darah di dalam tubuh,” ujar dr. Sepriani.
“Jika orang yang tidak sahur sampai mengalami hipoglikemia, dia akan merasa lemas, pusing, dan bisa pingsan,” tambahnya.
Dengan sahur yang tepat, tubuh lebih terlindungi dari risiko penyakit dan tetap bertenaga meski beraktivitas hingga 13-14 jam tanpa asupan makanan.
Menu Sahur Ideal ala Pedoman Kesehatan
Untuk mendapatkan kenyang tahan lama tanpa overeating, ikuti komposisi gizi seimbang. dr. Devia menyarankan menyertakan sumber karbohidrat (nasi, jagung, kentang, ubi, atau gandum), sayuran, lauk protein (hewani maupun nabati), buah, serta air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
Ia merujuk pedoman Kementerian Kesehatan yang mengibaratkan sahur seperti makan siang biasa: tiga centong nasi (atau setara tiga kentang ukuran sedang) sudah lebih dari cukup sebagai karbohidrat. Lauk hewani maksimal 80 gram, lauk nabati seperti dua potong tempe, sayuran sekitar 150 gram (satu mangkuk sedang), dan buah 150 gram (misalnya dua potong jeruk atau satu pisang ambon kecil).
Puasa bukan ajang makan berlebih, melainkan kesempatan menjaga pola makan sehat. Dengan porsi secukupnya namun bergizi lengkap, tubuh bisa tetap prima sepanjang hari tanpa keluhan cepat lapar atau lemas.