F1 resmi mengakhiri eksperimen singkat yang menuai banyak kecaman. FIA World Motor Sport Council pada hari Sabtu mengonfirmasi penghapusan aturan wajib dua kali pit stop untuk Grand Prix Monaco, hanya satu musim setelah regulasi tersebut dianggap sebagai “bencana taktis” oleh para pembalap dan penggemar.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari amandemen regulasi olahraga 2026, sekaligus pengakuan bahwa memaksa pembalap masuk ke pit lane tidak mampu memperbaiki masalah mendasar sirkuit jalan raya Monte Carlo.
Bumerang Strategi: Saat Balapan Menjadi Manipulasi
Diperkenalkan pada 2025 melalui Pasal 6.3.6, aturan ini mewajibkan penggunaan tiga set ban berbeda dengan harapan menciptakan variasi strategi. Namun, kenyataan di lintasan justru berbanding terbalik. Tim-tim papan tengah seperti Racing Bulls, Williams, hingga Mercedes justru memanfaatkan celah ini dengan cara yang dianggap merusak sportivitas.
Mereka sengaja menginstruksikan salah satu mobil untuk melaju sangat lambat—menjadi “penghalang bergerak”—demi menciptakan celah waktu bagi rekan setimnya agar bisa masuk pit tanpa kehilangan posisi. Hasilnya? GP Monaco 2025 hanya mencatatkan satu aksi salip legal sepanjang 78 lap, memicu gelombang kritik pedas.
“Mario Kart” dan Kekecewaan Para Bintang
Pembalap papan atas tidak menahan diri dalam mengkritik format ini. Carlos Sainz dari Williams menyebut taktik tersebut sebagai bentuk manipulasi hasil balapan. “Anda mengemudi dua atau tiga detik lebih lambat dari kapasitas asli mobil. Ini bukan balapan, ini manipulasi,” tegas Sainz.
Max Verstappen bahkan melontarkan sindiran pedas dengan membandingkan tontonan tersebut dengan gim “Mario Kart”. Menurut pembalap Red Bull ini, jumlah pit stop tidak akan mengubah fakta bahwa menyalip di Monaco tetap mustahil selama dimensi mobil tidak berubah. Sementara itu, George Russell menyebut situasi tersebut “cukup konyol” setelah rasa frustrasinya memuncak akibat terjebak di belakang mobil yang sengaja melambat.
Menuju Monaco 2026: Kembali ke Titik Nol
Penghapusan aturan khusus ini berarti edisi ke-83 Grand Prix Monaco pada Juni 2026 akan kembali menggunakan regulasi ban yang sama dengan sirkuit lainnya. Direktur single-seater FIA, Nikolas Tombazis, akhirnya mengakui bahwa mandat pit stop hanyalah aspek sekunder. Masalah utamanya tetap pada karakteristik sirkuit yang membuat aksi menyalip “praktis tidak mungkin” bagi mobil modern.