Sejarah Timur Tengah bergeser secara radikal dalam satu malam. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah serangan udara masif yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel menghancurkan kompleks kepresidenan dan komando di Teheran pada Sabtu (28/2/2026).
Setelah spekulasi yang simpang siur, televisi pemerintah Iran akhirnya mengonfirmasi kematian sang pemimpin pada Minggu dini hari.
Jenazah Khamenei ditemukan di bawah puing-puing bangunan yang luluh lantak akibat bom presisi tinggi. Foto jasadnya bahkan dilaporkan telah diperlihatkan secara langsung kepada Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu sebagai bukti keberhasilan operasi.
“Operation Epic Fury”: 12 Jam yang Mengguncang Dunia
Kematian Khamenei adalah puncak dari operasi militer bertajuk “Operation Epic Fury”. Dalam waktu hanya 12 jam, AS dan Israel meluncurkan sekitar 900 serangan udara ke berbagai titik vital di Iran, mulai dari pangkalan militer, fasilitas nuklir, hingga pusat pertahanan udara.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebutnya sebagai operasi udara paling kompleks dalam sejarah. “Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami akan mengakhirinya,” tegas Hegseth sebagai peringatan keras bagi siapa pun yang mengancam aset Amerika.
Reaksi Dunia: Perayaan di Jalanan dan Runtuhnya Patung
Kematian pria yang telah berkuasa puluhan tahun ini memicu gelombang emosi yang luar biasa. Di dalam negeri, ribuan warga Teheran turun ke jalan—bukan untuk berduka, melainkan menuntut perubahan rezim. Di Provinsi Fars, patung Khamenei ditumbangkan dan dibakar oleh massa yang merayakan apa yang mereka sebut sebagai “dunia baru”.
Fenomena serupa terjadi di pengasingan. Dari London Utara hingga “Little Tehran”, warga Iran di luar negeri merayakan kabar ini dengan sukacita. Sementara itu, putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, dikabarkan bersiap untuk mengambil peran dalam transisi kekuasaan.
Balasan Iran dan Ancaman Perang Berkepanjangan
Meski kehilangan pemimpin tertinggi, Garda Revolusi Iran tetap melancarkan serangan balasan. Rangkaian drone dan rudal balistik ditembakkan ke pangkalan AS di lima negara Teluk. Di Tel Aviv, sistem pertahanan Iron Drone dilaporkan sempat ditembus, mengakibatkan jatuhnya korban jiwa warga sipil.
Namun, alih-alih mereda, Donald Trump justru menegaskan bahwa pengeboman akan terus berlanjut sepanjang pekan ini. “Kebebasan Anda sudah di depan mata,” ujar Trump melalui pesan video, sembari menekankan bahwa tujuan akhir dari gempuran berdarah ini adalah perdamaian abadi di seluruh Timur Tengah.
Kematian Khamenei, bersama dengan gugurnya kepala Garda Revolusi dan menteri pertahanan, menjadi pukulan paling mematikan bagi rezim Ayatollah sejak Revolusi 1979.