Awal Maret menjadi momen berat bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup babak belur pada perdagangan Senin (2/3/2026). Sentimen global yang memanas menyeret indeks jatuh sedalam 218,66 poin atau 2,66 persen, hingga terpuruk ke level 8.016,83.
Sejak bel pembukaan berbunyi, IHSG sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan dengan dibuka di level 8.092,90, jauh di bawah penutupan sebelumnya. Sepanjang hari, aksi jual masif membuat indeks tak berdaya dan menyentuh level terendahnya di akhir sesi.
Ringkasan Statistik Pasar
-
Transaksi: Mencapai Rp29,77 triliun dengan volume 54,08 miliar saham.
-
Kapitalisasi Pasar: Tergerus hingga tersisa Rp14.342 triliun.
-
Indeks Utama: Seluruh indeks blue chip tiarap; LQ45 turun 2,62%, KOMPAS100 ambles 2,71%, dan IDX30 terkoreksi 2,46%.
-
Sektor Syariah: JII dan ISSI kompak memerah dengan penurunan di atas 2%.
Sektor Properti dan Industri Rontok, Energi Jadi Penyelamat
Pelemahan ini bersifat menyeluruh, di mana hampir semua sektor penghuni bursa “kebakaran”.
-
Sektor Siklikal: Menjadi pecundang utama dengan kejatuhan mencapai 7,60 persen.
-
Sektor Industri: Terjun bebas 5,95 persen, disusul sektor properti dan infrastruktur yang masing-masing ambruk lebih dari 4 persen.
-
Sektor Teknologi & Keuangan: Turut menyumbang pelemahan dengan koreksi masing-masing 3,77 persen dan 2,67 persen.
Namun, di tengah “tsunami” merah ini, sektor energi tampil sebagai satu-satunya pahlawan. Didorong oleh lonjakan harga komoditas imbas ketegangan geopolitik, sektor energi berhasil menguat 1,54 persen ke level 4.244,90.
Merespons volatilitas yang ekstrem ini, otoritas bursa meminta para investor untuk tidak panik dan tetap rasional dalam mengambil keputusan. Tekanan jual diperkirakan masih akan membayangi pasar selama ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.