Sejarah baru tercipta di Markas Besar PBB pada hari Senin (2/3/2026). Melania Trump resmi menjadi istri pemimpin dunia pertama yang memimpin sidang Dewan Keamanan PBB. Namun, sorotan bersejarah ini harus berhadapan dengan kenyataan pahit: sesi bertajuk “Anak-anak, Teknologi, dan Pendidikan dalam Konflik” ini berlangsung tepat saat pesawat tempur AS-Israel masih membombardir Iran.
“AS berdiri bersama semua anak-anak di seluruh dunia,” ucap Melania di hadapan badan beranggotakan 15 negara tersebut. “Saya berharap perdamaian segera menjadi milik kalian.” Meski mengakui dunia sedang berada di “masa penuh tantangan”, ia tidak menyinggung langsung kampanye militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Tragedi Minab: Kontras yang Menyakitkan
Di saat Melania berbicara tentang masa depan anak-anak, laporan memilukan datang dari Minab, Iran selatan. Sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh dilaporkan hancur total akibat serangan udara pada hari pertama operasi militer.
Setidaknya 165 orang, mayoritas siswi berusia 7 hingga 12 tahun, dikabarkan tewas dalam insiden tersebut. Lokasi sekolah yang berdekatan dengan fasilitas angkatan laut Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi titik perdebatan panas. Menlu Marco Rubio menegaskan AS tidak sengaja menargetkan sekolah, namun bayang-bayang tragedi ini memberikan kesan kelam di ruang sidang.
“Memalukan dan Munafik”
Sesaat sebelum palu sidang diketuk, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melontarkan kritik pedas. Ia menyebut diskusi yang dipimpin AS ini sebagai tindakan yang “memalukan dan munafik”.
“Sangat memalukan bagi Amerika Serikat mengadakan diskusi tentang perlindungan anak sementara mereka sendiri menghujani kota-kota Iran dengan bom,” tegas Iravani kepada awak media. Menurutnya, konsep perdamaian AS telah melenceng jauh dari Piagam PBB.
Sambutan Hangat di Tengah Badai
Meskipun suasana di luar gedung memanas, Melania mendapat sambutan tak terduga di dalam ruangan. Utusan Prancis menyamakannya dengan tokoh legendaris Eleanor Roosevelt, sementara utusan Yunani menyapanya sebagai “Nyonya Presiden”. Bahkan Rusia memilih bersikap sopan dengan menghindari topik Iran sama sekali.
Sidang selama dua jam ini berfokus pada inisiatif “Memupuk Masa Depan Bersama” milik Melania, yang menyoroti peran AI dalam pendidikan. Namun, sesi ini dilaksanakan di tengah hubungan Washington dan PBB yang berada di titik nadir—mulai dari iuran triliunan rupiah yang menunggak hingga penarikan diri AS dari berbagai organisasi dunia.
Sejarah hari ini mencatat Melania Trump sebagai pemimpin sidang, namun dunia akan mengenangnya sebagai momen di mana kata-kata perdamaian dan ledakan bom beradu di waktu yang bersamaan.