JAKARTA – Krisis Selat Hormuz akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu langkah cepat pemerintah Indonesia untuk mengamankan pasokan energi nasional.
Ancaman penutupan jalur vital perdagangan minyak dunia itu membuat pemerintah mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah guna menjaga stabilitas pasokan dan ketahanan energi nasional.
Langkah strategis ini dibahas langsung dalam rapat koordinasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama Dewan Energi Nasional di Jakarta sebagai respons atas dinamika global yang berpotensi mengguncang rantai distribusi minyak dunia.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak global dengan sekitar 20 juta barel minyak mentah dari kawasan Timur Tengah melintas setiap hari sehingga gangguan di kawasan tersebut berdampak luas terhadap harga dan pasokan energi internasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 20 hingga 25 persen kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah sehingga potensi gangguan distribusi perlu diantisipasi dengan skenario alternatif.
Pemerintah pun menyiapkan strategi diversifikasi pasokan dengan meningkatkan impor dari kawasan lain seperti Amerika, Afrika, dan Amerika Selatan guna memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi tanpa gangguan berarti.
“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude (minyak mentah) yang kita ambil dari Timur Tengah, sebagian kita alihkan untuk ambil dari Amerika. Ini supaya ada kepastian ketersediaan crude kita,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (3/3).
Ia menjelaskan bahwa impor dari Timur Tengah hanya terbatas pada minyak mentah sementara untuk produk Bahan Bakar Minyak jadi Indonesia tidak bergantung pada kawasan tersebut.
Pemerintah bahkan memastikan bahwa saat ini Indonesia tidak lagi mengimpor Solar dan hanya mendatangkan bensin RON 90, RON 93, RON 95, dan RON 98 yang mayoritas dipasok dari negara-negara Asia Tenggara.
“Alhamdulillah secara kebetulan untuk impor jenis BBM seperti ini tidak kita lakukan dari Timur Tengah, tapi kita lakukan dari negara-negara di luar Timur Tengah termasuk dalamnya adalah Asia Tenggara. Jadi ini relatif tidak ada masalah,” ujarnya.
Selain minyak mentah dan BBM, pemerintah juga memperkuat pasokan Liquefied Petroleum Gas dengan meningkatkan volume impor dari Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi pengamanan energi nasional.
“LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini naik menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persennya sekarang kita ambil dari Amerika,” ucapnya.
Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah juga menghitung secara detail dampak fiskal terhadap APBN agar stabilitas ekonomi tetap terjaga dan layanan publik tidak terdampak.
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan tegas agar ketersediaan energi nasional tetap aman sekaligus menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian kepada pelayanan kepada masyarakat kita,” ia mengungkapkan.
Menjelang momentum Hari Raya Idul Fitri, pemerintah memastikan stok BBM dan LPG berada dalam kondisi aman bahkan berada di atas standar minimum nasional sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi kelangkaan.
“Alhamdulillah saya menyampaikan bahwa untuk stok BBM dan LPG kita semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” tutupnya.***