JAKARTA – Tak hanya rokok konvensional yang berbahaya bagi paru-paru, vape atau rokok elektrik pun menyimpan risiko serius, termasuk memicu penyakit popcorn lung. Penyakit langka ini, yang secara medis dikenal sebagai bronchiolitis obliterans, kini menjadi perhatian karena kandungan kimia dalam uap vape.
Apa Itu Popcorn Lung?
Popcorn lung adalah kondisi peradangan parah pada bronkiolus, saluran udara terkecil di paru-paru, yang menyebabkan jaringan parut dan penyempitan permanen. Nama “popcorn lung” berasal dari kasus pertama pada 2000-an di pabrik popcorn microwave di Amerika Serikat, di mana pekerja menghirup diacetyl zat perasa mentega dalam jumlah besar, sehingga bronkiolus rusak seperti popcorn yang meletus.
Penyakit ini tidak menular dan langka, tapi progresif, artinya bisa memburuk cepat tanpa pengobatan tepat waktu. Di Indonesia, kasus serupa mulai dikhawatirkan karena maraknya penggunaan vape, terutama di kalangan muda.
Hubungan Vape dengan Popcorn Lung
Vape mengandung diacetyl dalam beberapa liquid rasa, terutama perasa manis atau mentega, yang aman jika dimakan tapi beracun saat dihirup setelah dipanaskan. Zat ini memicu inflamasi dan scarring pada bronkiolus, mirip kasus pabrik popcorn.
Selain diacetyl, senyawa lain seperti asetaldehida, formaldehida, amonia, klorin, dan nitrogen oksida juga ditemukan dalam uap vape, memperburuk iritasi saluran napas. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memperingatkan bahwa vape meningkatkan risiko bronkitis, asma, dan bronkiolitis obliterans, bahkan infeksi paru.
Kasus nyata termasuk remaja Kanada berusia 17 tahun yang mengalami gejala parah setelah vaping liquid rasa dan THC, serta wabah EVALI di AS 2019 yang menewaskan 68 orang, terkait aditif vape. Meski di UK dan EU diacetyl dilarang sejak 2016, di Indonesia regulasi masih berkembang dengan PP 28/2024 yang batasi penjualan vape dekat sekolah.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala muncul 2-8 minggu setelah paparan berkepanjangan, seperti batuk kering kronis, sesak napas saat beraktivitas, mengi, kelelahan, demam, penurunan berat badan, dan iritasi mata-hidung-mulut. Berbeda dengan asma, gejala ini konstan dan memburuk cepat, bahkan saat istirahat.
Pengguna vape sering abaikan gejala awal karena dianggap “lebih aman” dari rokok, tapi dr. Erlina dari PDPI sebut uap vape picu inflamasi paru seperti “bercak popcorn”.
Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis melibatkan riwayat paparan vape, pemeriksaan fisik, spirometri untuk tes fungsi paru, rontgen dada, CT scan, hingga bronkoskopi. Tidak ada obat penyembuh total karena kerusakan permanen, tapi pengobatan fokus redakan gejala: kortikosteroid kurangi inflamasi, bronkodilator buka saluran napas, antibiotik lawan infeksi sekunder, dan oksigen tambahan.
Kasus parah butuh transplantasi paru, meski berisiko komplikasi. Fisioterapi napas dan hentikan vape esensial untuk perlambat progres.
Pencegahan dan Risiko di Indonesia
Hindari vape sepenuhnya, terutama rasa manis. Gunakan masker di lingkungan berisiko kimia, vaksinasi pneumonia, dan cuci tangan cegah infeksi. Di Indonesia, regulasi 2024-2026 perketat cukai, batas liquid 20ml, dan larang jual dekat anak, tapi pengawasan liquid impor masih lemah.
Risiko tinggi pada remaja dan pekerja pabrik. Kemenkes RI ingatkan popcorn lung lebih berbahaya karena irreversibel, dorong kampanye anti-vape.
Meski bukti popcorn lung dari vape belum sebanyak rokok, akumulasi kimia panas berpotensi ciptakan “generasi baru penyakit paru”. Hentikan vape sekarang untuk lindungi paru masa depan kesehatan bukan tren.