Kabar penutupan Selat Hormuz oleh Iran sempat memicu riak kekhawatiran di tanah air. Pasalnya, 19% impor minyak mentah Indonesia bergantung pada jalur perdagangan global tersebut. Di tengah situasi yang memanas, fakta bahwa stok BBM nasional hanya bertahan sekitar 20 hari pun sempat memicu spekulasi kepanikan.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan klarifikasi menenangkan sekaligus blak-blakan mengenai kondisi infrastruktur energi kita.
Bukan Tidak Mampu, Tapi Tidak Muat
Bahlil meluruskan persepsi publik bahwa stok yang terlihat “tipis” itu bukan karena kegagalan pengadaan, melainkan keterbatasan fasilitas penyimpanan (storage).
“Kenapa kita gak melakukan persediaan lebih dari 25 hari, kalau diadakan mau disimpan di mana? storagenya gak cukup. Jadi mohon diluruskan, bukan kita gak bisa menyiapkan lebih dari 25 hari, karena memang daya tampungnya gak ada,” kata Bahlil di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (4/3/2026). Bahlil menegaskan bahwa saat ini Pertamina telah mengamankan stok di angka 22-23 hari.
Ambisi Prabowo: Stok 3 Bulan demi Kedaulatan Energi
Sadar akan kerentanan posisi Indonesia di tengah konflik Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto langsung mengambil langkah strategis. Bahlil mengungkapkan bahwa Presiden telah memerintahkan pembangunan kilang penampungan baru secara besar-besaran.
Targetnya tidak main-main: Indonesia harus mampu menyimpan cadangan BBM hingga 3 bulan.
“Insya Allah, target kita kapasitas simpan sampai 3 bulan. Inilah standar minimum konsensus global untuk ketahanan energi sebuah negara,” tutur Bahlil optimis.
Langkah ini diharapkan menjadi solusi permanen agar Indonesia tidak lagi berdebar setiap kali ada ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional di masa depan.