SUMSEL – Kisah perjuangan driver kendaraan pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel) sungguh menggugah hati.
Para driver MBG yang menembus hingga pedalaman OKI menghadapi medan berat demi memastikan program MBG tetap sampai ke tangan anak-anak sekolah dan balita penerima manfaat di wilayah terpencil Sumatera Selatan.
Distribusi MBG di wilayah tersebut bukan sekadar rutinitas pengantaran makanan, melainkan perjuangan harian menaklukkan jalan rusak, lumpur pekat, hingga genangan banjir yang kerap memutus akses desa.
Kondisi terkini di sejumlah titik distribusi menunjukkan tantangan masih sama, terutama saat musim hujan datang dan membuat jalur antar desa berubah menjadi kubangan licin yang menguji ketahanan kendaraan maupun fisik pengemudi.
Teguh Yuwono, sopir distribusi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Catur Tunggal, menjadi salah satu garda terdepan dalam memastikan makanan bergizi itu tiba tepat waktu di sekolah dan posyandu.

Setiap pagi, ia mengemudikan kendaraan logistik menuju delapan sekolah dan enam posyandu yang tersebar di wilayah Mesuji Makmur dengan kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya memadai.
“Disambut anak-anak dengan antusias. Lelah capek kami jadi hilang saat ketemu anak-anak sekolah yang gembira menyambut,” ujar Teguh saat ditemui di SPPG Desa Catur Tunggal, Mesuji Makmur, Rabu (4/3).
Di jalur Desa Catur Tunggal, terdapat satu titik rawan banjir yang hampir selalu tergenang ketika hujan deras turun pada malam hari.
Sementara di Desa Mukti Karya, satu titik lainnya juga kerap menjadi hambatan karena air meluap dan membuat kendaraan distribusi harus ekstra hati-hati melintas.
“Kalau di Desa Catur Tunggal ada satu titik lokasi banjir. Terus di Mukti Karya ada satu titik lagi. Jadi kalau musim hujan, di situ pasti ada banjir kalau malam hujan,” katanya.
Tidak jarang kendaraan yang ia kemudikan terperosok dan terjebak di lumpur tebal, memaksa Teguh dan tim meminta bantuan rekan kerja agar distribusi tetap bisa dilanjutkan.
“Kalau nyangkut pernah. Kami pernah nyangkut. Tapi kami langsung hubungi rekan-rekan divisi yang sudah selesai bekerja untuk bantuin,” ujarnya.
Meski medan distribusi penuh risiko, Teguh mengaku tetap menikmati pekerjaannya karena melihat langsung dampak nyata program MBG terhadap anak-anak di pedalaman OKI.
Baginya, menjadi driver MBG bukan hanya soal mengantar makanan, melainkan ikut menjaga harapan dan semangat belajar anak-anak melalui asupan gizi yang layak.
Sebelum bergabung dalam program MBG, Teguh bekerja sebagai buruh angkut sekaligus penyadap karet dengan pendapatan tak menentu yang rata-rata hanya sekitar Rp700 ribu per bulan.
Kondisi ekonomi keluarganya kini jauh lebih stabil setelah menjadi sopir distribusi MBG, bahkan ia mampu meningkatkan tabungan untuk biaya pendidikan anak-anaknya.
“Kalau dulu untuk biaya anak sekolah mungkin satu bulan paling bisa nabung sekitar 300 ribu. Sekarang satu bulan bisa nabung sekitar 700 ribu sampai satu juta,” katanya.
Program Makan Bergizi Gratis di pedalaman OKI tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi anak, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga para pekerjanya.
Setiap kali kendaraan distribusi berhenti di halaman sekolah dan disambut wajah-wajah ceria, Teguh kembali diingatkan bahwa perjalanan panjang menembus lumpur dan banjir setiap pagi adalah pengabdian yang tidak pernah sia-sia.***
