JAKARTA — Suara ledakan yang mengguncang jendela dan asap tebal di cakrawala kini menjadi bagian dari keseharian warga ibu kota Iran.
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (5/3/2026), Sepehr, seorang warga Teheran timur, mengatakan bahwa ia dan keluarganya hanya akan pergi jika situasi semakin memburuk. “Perang ini mungkin akan berlangsung berminggu-minggu, jadi saya dan keluarga hanya akan pergi jika situasinya semakin meburuk. Untuk saat ini, hidup terus berjalan,” ujarnya.
Sejak Sabtu, rudal Amerika Serikat dan Israel menghujani Teheran, menewaskan lebih dari 1.000 orang. Pemerintah Iran melaporkan kerusakan pada fasilitas air dan listrik, meski belum ada pemadaman besar. Jalanan ibu kota tampak lengang, banyak bisnis tutup, namun kebutuhan pokok masih tersedia, baik di toko maupun lewat pemesanan online.
Marjan, warga Teheran barat, menggambarkan antrean roti dan SPBU yang mulai muncul. “Sebagian besar toko memiliki semua yang Anda inginkan saat ini, tetapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Bagaimanapun, harga-harga tersebut sangat memberatkan,” katanya.
Krisis ekonomi memperparah keadaan. Laporan Pusat Statistik Iran (SCI) dan Bank Sentral menunjukkan inflasi tahunan mencapai 62–68 persen, salah satu yang tertinggi sejak revolusi 1979. Inflasi pangan bahkan menembus 105 persen, dengan lonjakan harga minyak goreng 207 persen, daging merah 117 persen, telur dan produk susu 108 persen, buah 113 persen, serta roti dan jagung 142 persen.
Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref mengakui pemerintah khawatir soal pasokan obat-obatan, meski kondisi saat ini masih terkendali. Pasar farmasi Iran belakangan dilanda gejolak, dengan harga melambung dan beberapa obat impor langka. Pemerintah berupaya menekan dampak dengan subsidi tunai untuk kebutuhan pokok, termasuk popok bayi, serta memberi wewenang kepada gubernur dan menteri provinsi untuk mengimpor barang penting dengan prosedur dipermudah.
Ekonomi Iran yang sudah rapuh akibat sanksi dan salah urus kini semakin terpukul oleh perang. Nilai tukar rial mendekati titik terendah sepanjang masa di 1,66 juta per dolar AS, pasar saham merosot, sementara harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai.