TEHERAN, IRAN – Pergantian kepemimpinan di Iran diwarnai dentuman perang. Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi sebelumnya yang gugur, resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Ketiga Iran dan langsung mengumumkan serangan balasan ke Israel. Operasi Janji Setia 4 tahap ke-30 itu menjadi sinyal keras Teheran membalas agresi AS dan Zionis yang telah menewaskan ribuan rakyatnya.
Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia, dalam pernyataan persnya pada Senin (9/3/2026), merinci eskalasi dramatis yang terjadi dalam sepuluh hari terakhir. Menurut pernyataan tersebut, pemilihan pemimpin baru berlangsung cepat di tengah situasi darurat oleh Majelis Khobregan Kepemimpinan (Dewan Pakar Kepemimpinan).
“Para anggota Dewan Pakar Kepemimpinan, yang berdasarkan Pasal 107 dan 108 Konstitusi Republik Islam Iran dipilih langsung oleh rakyat, dalam kondisi yang penuh risiko dan ancaman tetap melaksanakan tugas besar dan berat mereka dengan sebaik-baiknya dan dalam waktu yang sesingkat mungkin,” demikian bunyi pernyataan pers yang diterima Garuda.Tv, Senin (9/3/2026).
Pemilihan ini disebut sebagai bukti ketangguhan sistem pemerintahan Iran yang tidak bergantung pada individu. Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra dari Pemimpin Tertinggi sebelumnya yang gugur dalam serangan, memperoleh lebih dari 85 persen suara. Penunjukannya dinilai sebagai “penghibur bagi hati rakyat Iran yang sedang berduka dan berpuasa.”
Ribuan Korban Jiwa dan Infrastruktur Hancur
Dampak serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026, bertepatan dengan 10 Ramadan 1447 Hijriah, disebut sangat menghancurkan. Iran mencatat lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tak berdosa menjadi syahid. Selain korban jiwa, agresi tersebut juga menghancurkan 9.669 target sipil, yang mencakup 7.943 unit rumah tinggal, 1.617 pusat perdagangan, hingga fasilitas medis dan pendidikan.
“32 pusat medis dan farmasi, 65 sekolah dan fasilitas pendidikan, 13 bangunan Perhimpunan Bulan Sabit Merah, serta sejumlah infrastruktur penyediaan energi,” merupakan daftar fasilitas sipil yang turut menjadi sasaran, menurut data yang dirilis oleh Kedubes Iran.
Serangan Jauh di Laut dan Infrastruktur Vital
Salah satu insiden paling mematikan terjadi di perairan internasional. Kapal perang Iran “Dena” diserang ketika sedang dalam perjalanan pelatihan ke India atas undangan resmi Angkatan Laut India. Serangan yang dilakukan lebih dari 2.000 mil dari pantai Iran ini mengakibatkan gugurnya 104 putra bangsa.
“Kapal perang yang tidak bersenjata ini… tanpa peringatan apa pun, kapal tersebut menjadi sasaran serangan di perairan internasional, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” tegas pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa tindakan itu memperluas lingkup perang dan mengancam keamanan pelayaran internasional.
Agresi juga meluas hingga ke infrastruktur vital sipil, termasuk bandara, pesawat penumpang, dan fasilitas penyulingan air laut di Pulau Qeshm. Iran menyebut tindakan tersebut sebagai “kejahatan nyata lainnya yang melanggar hukum kemanusiaan internasional.”
Hak Membela Diri dan Peringatan untuk Kawasan
Menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi terang-terangan, Republik Islam Iran menegaskan haknya untuk mempertahankan integritas teritorial. Merujuk pada Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Iran menyatakan Angkatan Bersenjatanya akan menggunakan seluruh kapasitas untuk menghadapi agresi hingga dihentikan.
“Operasi pertahanan Iran ditujukan terhadap target dan fasilitas yang menjadi sumber dan titik awal tindakan agresif terhadap rakyat Iran,” demikian bunyi klarifikasi pernyataan tersebut. Iran juga memberikan jaminan kepada negara-negara kawasan bahwa operasi militernya terhadap pangkalan AS tidak boleh diartikan sebagai permusuhan terhadap mereka. Sebaliknya, Iran menilai keberadaan pangkalan militer AS di kawasan justru gagal memberikan kontribusi keamanan.
“Negara-negara kawasan tentu telah menyadari bahwa keberadaan pangkalan militer Amerika di wilayah mereka tidak hanya gagal memberikan kontribusi bagi keamanan kawasan, tetapi justru digunakan untuk mendukung rezim Zionis yang membunuh anak-anak dan agresor Amerika,” tambahnya.
Pintu Diplomasi dengan AS Tertutup
Serangan terbaru ini disebut sebagai “pengkhianatan” ketiga yang dilakukan Amerika Serikat dalam proses perundingan dengan Iran. Pernyataan tersebut merinci tiga pengkhianatan yang dimaksud: penarikan sepihak AS dari JCPOA pada 2018, serangan terhadap Iran pada Juni 2025 di tengah proses perundingan, dan serangan pada 28 Februari 2026 setelah putaran kedua perundingan.
“Akibat pengkhianatan berulang Amerika Serikat dalam proses perundingan dengan Iran, tidak ada lagi kepercayaan dari pihak Iran untuk melanjutkan diplomasi dengan negara tersebut,” tulis pernyataan itu dengan tegas. Meski demikian, Iran menegaskan komitmennya pada perdamaian berkelanjutan di kawasan, namun tidak akan pernah ragu membela kehormatan dan kedaulatannya.
Seruan kepada Dunia Internasional
Dalam pernyataan penutupnya, Kedutaan Besar Republik Islam Iran dengan tegas mengutuk agresi yang telah menyebabkan kesyahidan Pemimpin Tertinggi, lebih dari 175 siswi Sekolah Dasar Syajarat Tayyibah di Kota Minab, serta ribuan warga sipil lainnya. Iran menilai tindakan Washington dan Tel Aviv merupakan ancaman serius bagi perdamaian regional dan global.
Mereka menyerukan kepada seluruh insan merdeka di dunia untuk tidak hanya mengutuk, tetapi juga mengambil langkah nyata dan segera menghadapi kejahatan ini. “Masyarakat dunia juga diharapkan memberikan dukungan kepada Republik Islam Iran sebagai benteng terakhir dalam menghadapi ambisi dan peperangan rezim Zionis,” pungkasnya.