Fernando Alonso kembali membuktikan mengapa ia dianggap sebagai salah satu pembalap dengan refleks terbaik dalam sejarah Formula 1. Di tengah kekacauan performa Aston Martin pada pembuka musim di GP Australia, Alonso melakukan manuver magis dengan melesat dari posisi ke-17 di grid langsung ke posisi ke-10 hanya dalam satu lap.
Namun, kemampuan murni Alonso tak mampu menutupi keterbatasan mesin. Mobilnya yang kurang kompetitif terpaksa melorot posisinya sebelum akhirnya ia “terpaksa” memarkir mobil di lap ke-14.
Dalam drama teknis yang jarang terjadi, Alonso sempat kembali ke lintasan hanya untuk mengumpulkan data, sebelum akhirnya harus benar-benar menyerah pada kondisi mobilnya.
Misi “Mengumpulkan Data”
Bagi Aston Martin, GP Australia memang bukanlah soal memburu podium, melainkan misi “belajar”. Tim harus mengumpulkan data sebanyak mungkin untuk membenahi mobil sebelum seri berikutnya di China.
“Awal balapan adalah bagian terbaik, tentu saja. Setelah itu, kami kembali ke posisi ‘natural’ kami dan alarm mesin mulai berbunyi,” ungkap Alonso dengan sedikit getir.
Namun, juara dunia dua kali ini tetap memandang sisi positif. Bagi tim yang sebelumnya bahkan kesulitan menyelesaikan sesi latihan di Bahrain, sekadar bisa melakukan start dan pit stop dengan benar adalah sebuah kemajuan besar.
“Kami melakukan lap formasi, start, pit stop—bagi orang lain ini hal normal, tapi bagi kami ini adalah pengalaman baru. Ini adalah hari yang sangat berharga untuk belajar,” tambahnya.
Semangat Pantang Menyerah
Rekan setimnya, Lance Stroll, mengalami nasib tak jauh berbeda. Setelah sempat absen di FP3 dan Kualifikasi akibat masalah Internal Combustion Engine (ICE), Stroll akhirnya mendapat izin balapan.
Meski harus menghabiskan banyak waktu di garasi, Stroll berhasil menuntaskan 43 lap—sebuah pencapaian yang terasa mustahil beberapa hari sebelumnya.
“Rasanya seperti sesi latihan bebas, hanya mengumpulkan lap,” ujar Stroll. “Kami mencoba berbagai hal untuk memecahkan masalah teknis. Setidaknya kami bisa turun ke lintasan.”
Di tengah badai masalah teknis yang menghantam, Alonso tetap memancarkan optimisme tinggi. Ia melihat progres nyata dari apa yang terjadi di Bahrain dibandingkan dengan akhir pekan di Melbourne. Kini, semua mata tertuju pada GP China, di mana tim berharap bisa mengambil langkah maju berikutnya untuk keluar dari krisis performa ini.