JAKARTA — Oplet adalah salah satu warisan transportasi perkotaan Indonesia yang menyimpan sejarah panjang. Kendaraan mungil ini bukan sekadar alat angkut, melainkan cerminan dinamika sosial dan perjuangan masyarakat urban dari masa kolonial hingga era kemerdekaan. Dari jalanan Batavia hingga ibu kota Indonesia modern, transportasi ini telah melewati berbagai babak sejarah yang berliku.
Berikut tiga fakta tentang jenis transportasi tersebut yang jarang diketahui yang dirangkum dari Historia.id:
1. Pernah Jadi Pilihan Kaum Nasionalis
Di balik roda kemudi oplet, tersimpan semangat perlawanan. Tjokropranolo, yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 1977-1982, mengungkapkan bahwa transportasi ini pernah menjadi pelarian para nasionalis yang enggan bekerja di bawah pemerintah kolonial Belanda.
“Riwayat oplet tumbuh dalam proses perjuangan,” kata Tjokropranolo dalam Kompas, 18 September 1980. Namun, peran itu berakhir ketika Jepang mengambil alih kekuasaan dan menghentikan izin operasi transportasi tersebut.
2. Sempat Menghilang, lalu Bangkit dengan Wajah Baru
Pendudukan Jepang membuat oplet lenyap dari jalanan. Setelah Indonesia merdeka, kendaraan ini kembali beroperasi, kali ini dengan badan yang berbeda. Kendaraan militer peninggalan Jepang dan Jeep Willys asal Amerika dimodifikasi dengan cara serupa untuk menghidupkan kembali moda angkutan tersebut.
Penghapusan trem listrik pada penghujung dasawarsa 1950-an turut mendorong lonjakan jumlah transportasi ini. Memasuki awal 1970-an, Kompas edisi 25 Februari 1971 mencatat populasi di Jakarta telah mencapai 6.128 unit, menjadikannya angkutan umum terbanyak kedua setelah becak.
3. Bertahan Meski Berkali-kali Hendak Dihapus
Pemerintah DKI Jakarta di bawah Ali Sadikin pernah berupaya menyingkirkan oplet dari jalanan ibu kota. Rencana itu menempatkan Jakarta hanya dengan empat jenis angkutan umum: kereta api, bus kota, taksi, dan kendaraan bermotor roda tiga. Kategori terakhir mencakup bemo, superhelicak, dan minicar. Oplet tidak masuk dalam daftar. Para sopir pun angkat suara dengan turun berdemonstrasi. Upaya penyingkiran itu akhirnya gagal.
Pada 1977, Gubernur Tjokropranolo mengusulkan mikrolet sebagai pengganti oplet. Namun, usulan itu justru menghadapi kendala administratif. Pihak kepolisian tidak mengakui mikrolet sebagai bus karena pelat nomornya berawalan angka 1 atau 2, kode untuk jenis wagon atau jip, bukan angka 7 yang menjadi penanda resmi kendaraan bus.
Oplet bukan sekadar kendaraan tua yang tersingkir oleh zaman. Ia adalah saksi bisu perjalanan kota-kota besar Indonesia, dari masa penjajahan hingga era pembangunan. Ketangguhannya bertahan di tengah berbagai kebijakan yang berupaya menghapusnya mencerminkan betapa kuatnya peran oplet dalam keseharian masyarakat. Kisah transportasi ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap moda transportasi, selalu ada cerita manusia yang layak untuk dikenang.