JAKARTA – Kemacetan panjang di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk yang sempat menembus lebih dari 30 kilometer kini berangsur mereda setelah pemerintah mempercepat berbagai skema penanganan di lapangan.
Lonjakan kendaraan, terutama truk logistik selama periode arus mudik Lebaran, sebelumnya menjadi pemicu utama kepadatan ekstrem di akses keluar Pulau Bali.
Data terbaru dari Kementerian Perhubungan menunjukkan antrean kendaraan mulai menyusut secara bertahap, menandai adanya progres signifikan dalam penguraian kemacetan di titik penyeberangan tersibuk tersebut.
Koordinasi lintas instansi antara Kemenhub, Korlantas Polri, dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menjadi kunci utama dalam mempercepat normalisasi arus lalu lintas.
Sejumlah strategi taktis diterapkan secara simultan, mulai dari pengoperasian kapal berkapasitas besar, penambahan armada hingga 35 unit, pemanfaatan buffer zone secara maksimal, hingga penerapan sistem tiba-bongkar-berangkat (TBB) pada 25 kapal guna memangkas waktu sandar.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa langkah tersebut ditargetkan mampu menekan kepadatan dalam waktu singkat.
“Dengan dilakukannya langkah-langkah tersebut harapannya terjadi pengurangan kepadatan serta arus lalu lintas bisa berjalan normal kembali dan kepadatan bisa terselesaikan sebelum Hari Raya Nyepi,” ujarnya, ditulis, Rabu (18/3).
Meski tren membaik mulai terlihat, kepadatan belum sepenuhnya hilang karena masih banyak truk logistik bersumbu tiga ke atas yang tetap melintas meski telah diberlakukan pembatasan melalui SKB.
Kondisi tersebut memperpanjang antrean kendaraan dan menjadi tantangan tersendiri dalam upaya percepatan normalisasi arus.
Dari sisi operator, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memperkuat layanan dengan menambah armada perbantuan seperti KMP Prima Nusantara yang dioperasikan di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Wakil Direktur Utama ASDP menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi percepatan layanan penyeberangan di jalur padat.
“Pengerahan KMP Prima Nusantara merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas layanan di lintasan tersibuk. Kami juga terus mengoptimalkan pola operasi kapal agar proses penyeberangan berjalan lebih cepat dan antrean dapat ditekan,” ujarnya.
Kondisi Terkini Arus Gilimanuk
Pemantauan terbaru pada Rabu (18/3) pukul 10.00 WITA menunjukkan antrean kendaraan masih terjadi di wilayah Desa Melaya dengan panjang sekitar 11 kilometer dari pelabuhan.
Namun angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelumnya yang sempat melampaui 30 kilometer.
Peningkatan jumlah kapal dan pengaturan arus kendaraan yang lebih sistematis mulai memberikan dampak nyata terhadap kelancaran lalu lintas.
Pergerakan kendaraan kini lebih stabil meski pengguna jasa tetap diminta bersabar dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Pemerintah optimistis berbagai langkah percepatan ini mampu mengembalikan kondisi lalu lintas di akses Pelabuhan Gilimanuk ke situasi normal dalam waktu dekat menjelang Hari Raya Nyepi.***