JAKARTA – Keputusan Mohamed Salah meninggalkan Liverpool setelah sembilan tahun bersinar di Premier League menjadi momen penting yang mengejutkan dunia sepak bola, menandai akhir era dominasi sang bintang di Merseyside dan membuka peluang baru bagi klub-klub rival.
Salah, 33 tahun, mengonfirmasi bahwa musim panas ini akan menjadi musim terakhirnya di Inggris, meski kontraknya masih berlaku hingga 2027, menegaskan ambisinya mengejar tantangan baru di luar Liga Primer yang selama ini menjadi panggung gemilangnya.
Mengutip situs klub Liverpool, bagi Pep Guardiola, manajer Manchester City yang selama ini kerap frustrasi menghadapi ketajaman Salah, kabar ini mungkin disambut dengan lega, karena ancaman terbesar bagi dominasi City di liga selama beberapa musim terakhir akan segera berkurang.
Sebelumnya, ketika Salah memperpanjang kontrak tahun lalu, Guardiola menanggapi dengan pujian diplomatis namun juga menyinggung sedikit frustrasi, menegaskan kualitas luar biasa sang pemain sekaligus mengakui tantangan yang terus ia hadapi melawan bintang Mesir tersebut.
Komentar Guardiola menekankan bahwa perpanjangan kontrak Salah menguntungkan Arne Slot dan pendukung Liverpool, namun tidak untuk Premier League secara keseluruhan, menandakan rasa hormat sekaligus kelegaan tersembunyi atas kepergian Salah di masa depan.
Statistik Salah melawan Manchester City memperkuat reputasinya sebagai mimpi buruk lini pertahanan Guardiola, dengan 13 gol dan delapan assist dalam 24 laga, ditambah satu gol saat berseragam Chelsea, membuktikan konsistensi dan pengaruhnya dalam pertemuan penting.
Musim lalu, Salah mencetak dua gol dan memberikan dua assist dalam dua laga melawan City, membantu Liverpool meraih gelar liga, dan pertemuan berikutnya di FA Cup pada 4 April kemungkinan menjadi duel terakhir Guardiola menghadapi sang bintang sebelum kepergiannya resmi.
Kepergian Salah tidak hanya berarti kehilangan pencetak gol utama bagi Liverpool, tetapi juga menandai pergeseran besar dalam lanskap Premier League, di mana City bisa sedikit lega sementara klub lain bersiap menyaingi posisi baru sang pemain di tim baru.
Selain statistik dan rekor, kepergian Salah menjadi simbol perubahan era, menyisakan cerita rivalitas sengit antara Guardiola dan sang pemain, sekaligus menegaskan pengaruh besar Salah dalam membentuk wajah kompetisi Inggris selama hampir satu dekade.
Pep Guardiola menyambut Mohamed Salah dengan jabat tangan profesional, menunjukkan respek sekaligus sedikit lega atas kepergian sang bintang dari Premier League.***