Baru dua balapan di musim ke-20 kariernya, Lewis Hamilton sudah berhasil membungkam para pengritik yang sempat meragukan taringnya setelah tahun pertama yang sulit bersama Ferrari.
Sepertinya, “badai faktor pendukung” yang sempurna sedang memihak sang legenda. Ia sangat menyukai regulasi mesin 2026 yang menghasilkan balapan jarak dekat, ia menikmati kelincahan jet darat Ferrari SF-26, dan yang paling penting: Hamilton telah menemukan kembali api dalam dirinya.
Lewis Hamilton yang kita lihat di tahun 2026 sangat berbeda dengan sosok yang penuh keraguan musim lalu. Ketika ditanya oleh Crash.net mengenai perubahan nasibnya, ia menjawab dengan lugas.
“Ini hanya perubahan sikap. Saya tidak membiarkan semua ‘BS’ (omong kosong) yang keluar dari mulut orang lain menghalangi jati diri saya dan apa yang mampu saya lakukan. Saya telah membuktikannya di dua balapan terakhir, dan saya akan terus menunjukkannya sepanjang tahun,” tegas Hamilton.
Latihan Lebih Gila dari Pembalap Muda
Di usianya yang tak lagi muda, dedikasi Hamilton justru meningkat. Ia mengungkapkan bahwa di jeda balapan terakhir, ia menghabiskan waktu di Tokyo dengan berlari sejauh 100 kilometer.
“Saya tahu tidak ada pembalap lawan yang berlatih sekeras saya. Saya pernah di hotel, melihat beberapa pembalap baru saja bangun tidur saat saya baru saja menyelesaikan lari saya. Komitmen saya saat ini lebih besar dari sebelumnya,” tambahnya.
Menikmati Era Baru, Sindir Keluhan Verstappen
Berbeda dengan Max Verstappen yang vokal mengkritik regulasi mobil 2026—yang sering dijuluki balapan “yo-yo” karena sistem tenaga yang naik-turun—Hamilton justru merasa ini adalah bentuk balapan terbaik dalam waktu lama.
-
Bisa Menempel Ketat: Hamilton menyebut SF-26 adalah mobil pertama dalam 20 tahun yang benar-benar bisa membuntuti lawan di tikungan kecepatan tinggi tanpa kehilangan downforce.
-
Mirip Karting: Ia menyamakan aksi salip-menyalip saat ini dengan balapan gokart—murni, intens, dan seru.
Menanggapi keluhan Verstappen, Hamilton memberikan komentar menohok:
“Wajar jika Anda punya mobil yang sangat dominan selama 5 tahun terakhir, semuanya terasa mudah. Ini tahun pertama hal itu tidak terjadi padanya. Saya tidak tahu mengapa dia tidak menikmatinya, tapi bagi saya, mobil yang lebih ringan dan lincah ini jauh lebih menyenangkan.”
Optimisme di Maranello
Meski mengakui ada beberapa aspek teknis yang tidak ia sukai (seperti cara penyaluran tenaga mesin baru), Hamilton melihat cahaya di ujung terowongan bagi Ferrari. Bersama Charles Leclerc, ia kini fokus membimbing tim menuju arah yang benar untuk menutup celah dengan papan atas.
Keberhasilan film F1 yang baru saja memenangkan Oscar juga dianggapnya sebagai momentum emas bagi olahraga ini. Bagi Hamilton, F1 bukan lagi sekadar iring-iringan mobil (procession), melainkan sebuah pertarungan sejati.