Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kemacetan parah yang melumpuhkan Tol Trans Jawa pada periode Lebaran 2026. Fokus utama sorotan tertuju pada tanggal 18 Maret 2026, di mana ribuan pemudik terjebak selama berjam-jam dalam apa yang disebut sebagai puncak arus tertinggi dalam sejarah jalan tol Indonesia.
“Kami memahami kesulitan pengguna jalan dan memohon maaf atas kepadatan luar biasa yang terjadi. Kita harus melihat bahwa tidak seluruh periode menjadi ‘horor’, namun memang ada titik-titik waktu tertentu di mana kepadatan mencapai puncaknya,” ujar Dudy saat menutup Posko Angkutan Lebaran Terpadu di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Rest Area Jadi “Biang Kerok” Kemacetan
Berdasarkan hasil evaluasi, Menhub mengungkapkan bahwa keterbatasan kapasitas rest area menjadi pemicu utama mampetnya aliran kendaraan. Daya tampung yang tidak sebanding dengan volume kendaraan pada 18 Maret tersebut menciptakan efek domino hingga ke badan jalan tol.
“Kendalanya ada di rest area. Tanggal 18 Maret itu adalah rekor puncak tertinggi yang pernah terjadi di sepanjang Trans Jawa. Ini menjadi catatan besar bagi kami,” tegasnya.
Rencana Besar Bareng Kementerian PU
Tak ingin kejadian serupa terulang, Menhub Dudy memastikan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan perombakan total dan evaluasi terhadap fasilitas istirahat di sepanjang jalur mudik utama tersebut.
Selain perbaikan fisik, pemerintah juga akan menggencarkan edukasi bagi para pemudik mengenai etika penggunaan rest area:
-
Durasi Istirahat: Masyarakat diminta tidak terlalu lama parkir di rest area agar bergantian dengan pemudik lain yang membutuhkan.
-
Larangan Berhenti Sembarangan: Menhub memperingatkan bahaya berhenti di bahu jalan yang sering kali memperparah kemacetan.
“Semakin lama orang berada di rest area, semakin menghambat kendaraan lain yang benar-benar butuh istirahat. Ini yang perlu kita edukasi kembali,” pungkas Dudy.