JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis dengan melibatkan perguruan tinggi guna mempercepat realisasi program 3 juta rumah sebagai solusi kebutuhan hunian nasional.
Dorongan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat basis kebijakan berbasis riset agar pembangunan perumahan berjalan lebih terarah, efektif, dan tepat sasaran.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, memastikan kampus-kampus di seluruh Indonesia akan segera bergerak melakukan penelitian mendalam terkait persoalan perumahan.
“Pak Presiden juga memberikan petunjuk bagaimana kampus-kampus melakukan riset, kajian, dan penanganan permasalahan perumahan,” ujar Brian usai menghadiri rapat terbatas bersama Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/4).
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi lintas kementerian akan menjadi kunci dalam memastikan riset tersebut berjalan optimal dan memberikan dampak nyata di lapangan.
Menurut Brian, Kementerian Pendidikan Tinggi akan berperan dalam penguatan riset, sementara Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman akan mengoordinasikan implementasi kebijakan di sektor perumahan.
“Jadi, nanti Bapak Menteri Perumahan, Pak Ara, akan mengoordinasikan. Kami dari sisi risetnya” ujar dia.
Selain fokus pada pembangunan hunian, pemerintah juga mengarahkan perguruan tinggi untuk terlibat dalam pembenahan tata ruang wilayah melalui pendekatan akademik.
Instruksi tersebut secara khusus menyasar kampus yang memiliki Fakultas Planologi agar dapat berkontribusi dalam membantu pemerintah daerah menyusun tata kota yang lebih tertata dan berkelanjutan.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya mempercepat pembangunan perumahan, tetapi juga menciptakan kawasan hunian yang layak, inklusif, dan ramah lingkungan.
“Membantu kepala-kepala daerah sehingga tata ruang, tata kota dari setiap wilayah, kota atau kabupaten, itu menjadi tempat praktiknya mahasiswa,” ujar dia.
Langkah ini sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam praktik perencanaan wilayah, sehingga hasil riset tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif.
Dengan sinergi antara pemerintah dan akademisi, program 3 juta rumah diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan mampu menjawab tantangan backlog perumahan di Indonesia secara menyeluruh.***