JAKARTA — Tepat pada 9 April, TNI Angkatan Udara merayakan hari jadinya. Sebagai salah satu matra pertahanan negara, TNI AU telah melewati perjalanan panjang sejak masa-masa sulit pascakemerdekaan hingga menjadi angkatan udara yang diperhitungkan di kawasan. Dari bermodalkan pesawat rampasan tentara Jepang yang sudah usang, kini TNI AU telah diperkuat jet-jet tempur modern dari berbagai penjuru dunia.
Berikut lima fakta menarik perjalanan TNI AU yang patut untuk diketahui:
1. Lahir Hanya Beberapa Pekan setelah Kemerdekaan

TNI AU tidak butuh waktu lama untuk berdiri. Berawal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945, organisasi ini bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan pada 5 Oktober 1945. Puncaknya, pada 9 April 1946, lahirlah Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang kini diperingati setiap tahun sebagai Hari TNI AU.
2. Modal Awal Hanya Pesawat Rampasan Jepang

Di masa-masa awal berdirinya, TNI AU beroperasi dengan peralatan yang sangat terbatas. Para penerbang kita mengandalkan pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang, seperti, Nishikoreng, Guntei, dan Hayabusha. Jumlah penerbang dan teknisinya pun sangat terbatas.
3. Pernah Jadi Kekuatan Udara Paling Disegani di Asia Tenggara

Memasuki dekade 1960-an, TNI AU mencapai puncak kejayaannya. Dengan persenjataan yang besar dan andal seperti MiG-19, MiG-21, TU-16, IL-28 Ilyusin, dan helikopter Mi-4, Indonesia menjadi kekuatan udara yang paling diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. TNI AU pun aktif terlibat dalam Operasi Trikora, Dwikora, hingga penumpasan pemberontakan G30S/PKI.
4. Nama-nama Besar yang Membesarkan TNI AU

Perjalanan TNI AU tidak lepas dari jasa para perintisnya. Marsekal TNI Suryadi Suryadarma, Marsekal Muda (Anumerta) Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda (Anumerta) Abdulrachman Saleh, Marsekal Muda (Anumerta) Halim Perdanakusuma, dan Marsekal Pertama (Anumerta) Iswahjudi adalah sebagian nama besar yang mengukir sejarah kejayaan angkatan udara Indonesia.
5. Terus Berkembang, dari Mustang hingga Sukhoi

Dari dekade ke dekade, TNI AU terus memperbarui alutsistanya. Era 1950-an diwarnai kehadiran P-51 Mustang, B-25 Mitchel, B-26 Invader, C-47 Dakota, MiG-15, MiG-17, dan PBY Catalina. Lalu F-16 Fighting Falcon tiba pada akhir 1989, disusul Hawk 100/200 pada 1996. Di era milenium, giliran Sukhoi SU-27 SK dan SU-30 MK dari Rusia serta pesawat latih KT-1 Woong Bee dari Korea Selatan yang memperkuat langit Indonesia.
Perjalanan panjang TNI AU selama puluhan tahun membuktikan bahwa semangat juang dan dedikasi tidak pernah padam meski di tengah keterbatasan. Dari langit Semarang, Salatiga, dan Ambarawa yang pernah diwarnai aksi heroik para penerbang pertama kita, hingga misi kemanusiaan di berbagai penjuru dunia, TNI AU terus hadir sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan udara Indonesia. Di usianya yang terus bertambah, TNI AU diharapkan semakin kuat dan tangguh dalam mengemban amanah sebagai Sayap Tanah Air. (ACH)