Sungai-sungai di Jakarta kini tengah menjadi medan “perang” melawan invasi alien air tawar. Fenomena perburuan ikan sapu-sapu di sepanjang Kali Ciliwung hingga kanal-kanal pusat kota bukan lagi sekadar hobi warga, melainkan misi penyelamatan ekosistem yang mendesak.
Pemandangan tak biasa terlihat di Kali Cideng, tepat di depan kemegahan Plaza Indonesia, Menteng. Sebanyak 100 personel gabungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta bersama petugas Gulkarmat Jakarta Pusat dikerahkan bukan untuk menangani banjir, melainkan melakukan “perburuan besar” terhadap ikan sapu-sapu.
Dalam operasi senyap tersebut, petugas berhasil mengangkat 41 ekor ikan sapu-sapu berukuran jumbo. Keberadaan mereka di sana bukan lagi dianggap sebagai pembersih alami, melainkan ancaman nyata bagi infrastruktur dan kehidupan ikan lokal.
“Kami bergerak untuk memberantas spesies invasif yang mulai mendominasi perairan Jakarta,” tegas Kepala Dinas KPKP DKI, Hasudungan A. Sidabalok.
Mengenal Si “Suckermouth Catfish”: Alien dari Amerika Selatan
Ikan sapu-sapu, atau yang di dunia internasional dikenal sebagai Plecostomus, sebenarnya adalah imigran gelap dari Amerika Selatan. Ikan ini memiliki kemampuan bertahan hidup layaknya “zombie”—ia sanggup hidup di air dengan kadar polusi tinggi dan oksigen rendah yang akan membunuh ikan jenis lain.
Ciri khasnya adalah tubuh sekeras pelat baja dan mulut penghisap yang sangat kuat. Sayangnya, adaptasi hebat ini justru menjadi petaka bagi sungai-sungai kita.
Mengapa Mereka Dianggap Hama?
Badan Karantina Indonesia (Barantin) mengategorikan ikan sapu-sapu sebagai spesies asing invasif karena beberapa alasan mengerikan:
-
Merusak Tanggul Sungai: Ikan ini memiliki kebiasaan menggali lubang di tepian sungai untuk bersarang. Dalam jumlah besar, aktivitas ini memicu erosi hebat dan merusak struktur tebing sungai (sedimentasi).
-
Tanpa Predator Alami: Di Indonesia, hampir tidak ada hewan yang memangsa ikan ini karena kulitnya yang keras dan berduri. Akibatnya, populasi mereka meledak tanpa terkendali.
-
Penjajah Habitat: Mereka memakan alga dan sisa organik yang seharusnya menjadi sumber makanan ikan lokal. Jika dibiarkan, ikan asli Indonesia seperti nilem atau tawes akan punah karena kalah bersaing.
Melihat ledakan populasi ini, muncul inovasi dari berbagai daerah. Di Kabupaten Bandung, warga mulai mengolah hasil buruan ikan sapu-sapu menjadi campuran pakan ternak yang tinggi protein.
Sementara di Jakarta, para aktivis lingkungan mulai mendorong Dinas KPKP untuk merangkul komunitas “Pemburu Sapu-Sapu” agar pengendalian populasi bisa dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat operasi formal.