Seberapa hafal masyarakat Indonesia terhadap ideologi negaranya sendiri? Lembaga Survei Indonesia (LSI) baru saja merilis potret terbaru mengenai komitmen dan pemahaman publik terhadap Pancasila. Hasilnya cukup mengejutkan, sekaligus menjadi cermin bagi nasionalisme kita di tahun 2026.
Meskipun 92 persen orang Indonesia merasa tahu tentang Pancasila, realita di lapangan menunjukkan tantangan tersendiri. Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan, dalam paparannya di Cikini (12/4/2026), mengungkapkan bahwa hanya 68,2 persen responden yang benar-benar mampu menyebutkan kelima sila Pancasila secara lengkap dan berurutan.
Data ini menjadi sorotan dalam survei teranyar bertajuk “Evaluasi dan Komitmen Publik Terhadap Pancasila”. Temuan ini merinci degradasi hafalan di masyarakat:
-
Hafal Sempurna: 68,2 persen (5 sila).
-
Hafal Sebagian: 11,5 persen (4 sila), 5,3 persen (3 sila).
-
Minim Hafalan: Sekitar 9,6 persen hanya hafal 1 hingga 2 sila.
-
Nol Besar: Sebanyak 5,3 persen responden sama sekali tidak bisa menyebutkan satu pun sila dengan benar.
Sila Keempat Jadi yang Paling Sulit Diingat?
Menariknya, tingkat hafalan tiap sila memiliki persentase yang berbeda. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menjadi yang paling melekat di ingatan publik (92,8%). Namun, sila keempat yang berbicara tentang kerakyatan dan hikmat kebijaksanaan justru menjadi yang paling sulit diingat, dengan tingkat hafalan hanya 76,4%.
“Meskipun ada variasi dalam hafalan, mayoritas publik tetap memandang kelima sila dalam Pancasila sebagai fondasi yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Djayadi.
Metodologi dan Akurasi Data
Survei yang dilakukan pada 4 hingga 12 Maret 2026 ini melibatkan 2.020 responden di seluruh penjuru Indonesia menggunakan metode multistage random sampling. Dengan wawancara tatap muka dan pengawasan ketat (spot check), LSI memastikan data ini memiliki tingkat kepercayaan hingga 95 persen.
Meski angka 68 persen menunjukkan mayoritas, temuan ini tetap menjadi pengingat bagi pemerintah dan institusi pendidikan. Mengingat hasil survei GoodStats sebelumnya menyebutkan bahwa lebih dari separuh masyarakat sudah lama tidak membaca teks Pancasila, tantangan ke depan adalah bagaimana ideologi ini tidak hanya “dihafal” tetapi benar-benar “dihidupi”.