SUKOHARJO – Program Sekolah Rakyat 2026 menghadirkan akses pendidikan gratis bagi anak dari keluarga kurang mampu, termasuk anak dari orang tua difabel yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi.
Kebijakan pendidikan gratis ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam memperluas kesempatan belajar sekaligus mengurangi kesenjangan sosial di berbagai daerah.
Di Kabupaten Sukoharjo, kisah Kuat menjadi gambaran nyata bagaimana program ini membawa harapan baru bagi keluarga prasejahtera.
Kuat yang berusia 50 tahun merupakan penyandang disabilitas akibat polio sejak usia satu tahun yang menyebabkan sebagian tubuhnya lumpuh.
Dalam kesehariannya, ia bekerja serabutan membantu keluarganya mengolah kain perca untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Kuat selama ini harus berjuang keras memastikan anaknya tetap mendapatkan pendidikan layak.
Kini, beban tersebut mulai berkurang setelah anak pertamanya yang duduk di kelas 3 SD diterima di Sekolah Rakyat Dasar 2 Surakarta.
Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memberikan akses pendidikan berkualitas tanpa biaya bagi keluarga miskin.
“Saya senang. Anak saya bisa sekolah di Sekolah Rakyat, saya merasa terbantu,” ujar Kuat, dikutip pada Minggu (12/4).
Ia menjelaskan bahwa anaknya mendapatkan berbagai fasilitas lengkap yang seluruhnya ditanggung oleh negara.
Mulai dari tempat tinggal berupa asrama, konsumsi harian tiga kali makan, tambahan camilan, hingga perlengkapan sekolah seperti seragam dan laptop disediakan secara gratis.
“Sekolahnya gratis, dapat makanan, pakaian, segala macam kebutuhan gratis,” ujarnya.
Dengan dukungan fasilitas tersebut, siswa dapat lebih fokus belajar tanpa terbebani kebutuhan dasar sehari-hari.
Program ini juga memberi ruang bagi anak-anak untuk membangun cita-cita lebih tinggi meskipun berasal dari latar belakang ekonomi terbatas.
Kuat mengaku bersyukur dan menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas hadirnya program pendidikan tersebut.
“Terima kasih Pak Prabowo, anak saya bisa sekolah di Sekolah Rakyat agar pintar dan tercapai cita-citanya,” ucapnya.
Pemerintah merancang Sekolah Rakyat sebagai strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan inklusif dan merata.
Melalui pendamping PKH di tingkat daerah, pemerintah secara aktif menjaring anak-anak dari keluarga miskin agar dapat mengakses pendidikan di sekolah tersebut.
Data per Maret 2026 menunjukkan sebanyak 166 Sekolah Rakyat telah beroperasi dan menjangkau 14.972 siswa di seluruh Indonesia.
Program ini didukung oleh 2.304 tenaga pendidik serta 4.760 tenaga kependidikan untuk memastikan kualitas pembelajaran tetap terjaga.
Ekspansi program terus dilakukan dengan target pembangunan 104 sekolah tambahan sepanjang tahun 2026.
Penambahan tersebut diproyeksikan mampu menampung sekitar 15.000 siswa baru dari keluarga kurang mampu.
Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan pembangunan 500 Sekolah Rakyat hingga tahun 2029.
Langkah ini diharapkan menjadikan Sekolah Rakyat sebagai pusat harapan baru bagi generasi muda dalam membangun masa depan yang lebih baik.***