SRAGEN – Program Sekolah Rakyat gratis dari pemerintah menjadi titik balik kehidupan Rafika Nur Khasanah (16), seorang remaja yang nyaris kehilangan masa depan pendidikannya akibat himpitan ekonomi dan kondisi keluarga yang rapuh.
Kisah Rafika mencerminkan realitas pahit yang dialami sebagian anak Indonesia, ketika kehilangan orang tua dan keterbatasan ekonomi hampir memaksanya berhenti sekolah.
Namun, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi solusi nyata yang tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi masa depan generasi muda kurang mampu.
Rafika, siswi kelas 10 di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen, Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa hidupnya berubah setelah diterima di sekolah tersebut.
“Saya cuma ikut Mbah (kakek dan nenek). Ayah saya meninggal sejak saya umur 8 tahun. Ibu merantau,” kenang Rafika saat ditemui di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen, Jawa Tengah, Senin (20/4/2026).
Sejak kecil, Rafika harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran orang tua secara utuh, setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya memilih merantau tanpa memberikan kabar maupun dukungan finansial.
Situasi semakin sulit ketika ia memasuki masa akhir pendidikan SMP, di mana kebutuhan biaya sekolah semakin besar sementara kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan.
Kakek Rafika diketahui tidak lagi mampu bekerja karena menderita penyakit diabetes yang mengganggu mobilitasnya, sementara sang nenek hanya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan terbatas.
“Saya dikasih uang itu cuma Rp10 ribu karena tidak punya uang,” kata Rafika.
Dalam kondisi penuh keterbatasan tersebut, Sekolah Rakyat hadir sebagai penyelamat yang memungkinkan Rafika melanjutkan pendidikan tanpa harus terbebani biaya hidup dan kebutuhan sekolah.
Melalui program ini, Rafika mendapatkan fasilitas lengkap mulai dari seragam, alat tulis, sepatu, hingga kebutuhan dasar lainnya yang mendukung aktivitas belajar.
Tak hanya itu, kebutuhan konsumsi harian juga ditanggung sepenuhnya, dengan penyediaan makan tiga kali sehari serta camilan tambahan dua kali sehari.
Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, Rafika kini dapat fokus mengejar prestasi akademik dan mengembangkan minatnya di bidang seni.
“Karena Sekolah Rakyat, saya bisa melanjutkan sekolah dan dapatkan cita-cita saya,” kata Rafika.
Ia bahkan mulai berani bermimpi lebih besar untuk melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri, khususnya Jepang yang menjadi tujuan impiannya.
“Saya pengen ke Jepang,” ujar dia.
Di balik perjuangan hidupnya, Rafika mengaku tidak menyimpan rasa kecewa terhadap ibunya, melainkan kerinduan yang mendalam untuk kembali bertemu dan berbagi cerita.
“Aku ingin menyampaikan kalau aku sayang ibu. Aku cuma punya ibu. Ayah sudah gak ada. Jadi, ibu tolong ngertiin aku,” kata dia.
Sementara itu, Kartini (67), nenek Rafika, mengungkapkan rasa syukur karena cucunya kini mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak melalui program pemerintah tersebut.
Kartini yang telah merawat Rafika sejak kelas 5 SD menyebut cucunya sebagai anak yang tangguh dan penuh tanggung jawab di tengah keterbatasan.
“Dia itu anak pintar. Rafika bahkan mengurusi kakeknya yang sakit,” kata Kartini.
Kisah Rafika menjadi bukti nyata bahwa program Sekolah Rakyat gratis tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga mampu mengubah arah kehidupan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Program ini sekaligus mempertegas komitmen pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.***