JAKARTA – Menjelang kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing pada Selasa dan Rabu, ia dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertukar “surat ucapan selamat” pada Minggu.
Xi menekankan bahwa kerja sama bilateral kedua negara telah “terus diperdalam dan diperkuat,” bertepatan dengan peringatan 30 tahun kemitraan strategis.
Media pemerintah Tiongkok, Global Times yang dilansir Senin (18/5/2026), menyoroti bahwa kunjungan berdekatan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia ke Beijing menunjukkan posisi Tiongkok yang “dengan cepat muncul sebagai titik fokus diplomasi global.” Para analis mencatat, jarang sekali sebuah negara menjadi tuan rumah bagi pemimpin AS dan Rusia secara berturut-turut dalam kurun waktu seminggu.
Hubungan erat Beijing–Moskow sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menjadi perhatian Barat. Dukungan ekonomi dan diplomatik Tiongkok dinilai membantu Rusia mempertahankan konflik. Perdagangan bilateral pun melonjak ke rekor tertinggi, dengan Tiongkok membeli lebih dari seperempat ekspor Rusia, termasuk minyak mentah senilai ratusan miliar dolar.
Sementara itu, pembicaraan Trump–Xi pekan lalu lebih banyak menyinggung isu perdagangan, Taiwan, dan krisis di Timur Tengah. Xi memperingatkan Trump soal potensi konflik terkait Taiwan, sementara Trump belum memutuskan apakah akan melanjutkan penjualan senjata AS ke pulau tersebut.
Menurut Joseph Webster dari Atlantic Council, Taiwan bisa menjadi isu tersirat dalam pertemuan Xi–Putin. Beijing disebut berupaya memperkuat pasokan energi melalui kesepakatan bahan bakar fosil dengan Moskow, termasuk proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang akan menambah kapasitas 50 miliar meter kubik.