Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Nusa Tenggara Barat, semakin tak terkendali. Hingga Sabtu (26/9/2026), kobaran api tercatat telah melahap area vegetasi seluas 723,7 hektare.
Mengantisipasi ancaman keselamatan para pendaki akibat pergerakan api yang mulai mendekati kawasan Pelawangan Senaru, Balai TNGR mengambil langkah tegas dengan menutup sementara Jalur Wisata Pendakian Senaru mulai 26 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
“Jalur Wisata Pendakian Senaru di Kabupaten Lombok Utara ditutup sementara terhitung mulai tanggal 26 September 2026 sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan,” tulis Balai TNGR dalam keterangan resminya.
Atas kebijakan darurat ini, para calon pendaki yang memegang e-ticket jalur Senaru maupun Torean diminta untuk segera melakukan reschedule dan mengalihkan pintu masuk pendakian melalui Jalur Sembalun, Lombok Timur. Begitu pula bagi para pendaki yang saat ini berada di area Danau Segara Anak, petugas menginstruksikan agar proses turun gunung dialihkan sepenuhnya ke jalur Sembalun.
Api Merembet ke Puncak Sangkareang, Medan Terjal Hambat Petugas
Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo, mengonfirmasi bahwa kendati beberapa titik api di sisi timur Bukit Setampol berhasil dipadamkan dan ditangani (mop-up), pergerakan api kini justru terdeteksi kian meluas dan merembet menuju kawasan Puncak Sangkareang.
“Lokasi lainnya api masih terpantau bergerak ke arah Puncak Sangkareang dan sekitarnya. Tim patroli telah dikerahkan ke jalur Senaru untuk memantau pergerakan sekaligus mengantisipasi potensi penyebaran api lebih lanjut,” terang Astekita.
Proses pemadaman di lapangan menghadapi tantangan alam yang sangat berat. Hembusan angin kencang di ketinggian membuat lidah api dengan cepat menyambar hamparan savana, semak, dan rumput pegunungan yang mengering akibat cuaca ekstrem.
Tak hanya itu, topografi lereng Rinjani yang terjal, jauh, serta terisolasi sangat menyulitkan petugas gabungan dalam mendistribusikan alat pemadaman dan logistik.
“Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama kami dalam penentuan pergerakan menuju titik api serta metode pemadaman yang diterapkan,” tambah Astekita.
Balai TNGR kembali mewanti-wanti masyarakat, pemandu lokal (porter), dan para wisatawan untuk tidak mendekati radius bahaya kebakaran serta menghindari aktivitas apa pun yang berpotensi memicu timbulnya titik api baru di kawasan Gunung Rinjani.