Raksasa balap asal Inggris, McLaren Racing, bersiap mengukir sejarah baru di luar lintasan. Juara bertahan konstruktor Formula 1 tersebut berada di ambang rekor finansial fantastis sebagai tim F1 pertama yang membukukan pendapatan tahunan menembus $1 miliar (sekitar Rp15,2 triliun).
Tim yang bermarkas di Woking ini menikmati lonjakan pertumbuhan ekonomi yang sangat masif dalam beberapa tahun terakhir. Lompatan ini tak lepas dari kebangkitan prestasi mereka di atas lintasan, diawali dengan gelar juara dunia konstruktor pada 2024—gelar pertama mereka sejak era 1990-an.
Dominasi tersebut makin sempurna setelah Lando Norris menyabet gelar juara dunia pembalap musim lalu, mengakhiri dahaga gelar driver McLaren sejak 2008 usai menang tipis dua poin atas Max Verstappen.
Berdasarkan laporan Sky News, laporan keuangan McLaren Racing Ltd untuk tahun kalender 2025 mencatatkan pendapatan resmi sebesar £588 juta ($779,6 juta), yang menjadi landasan kuat menuju estimasi milestone $1 miliar pada periode berjalan.
“Lompatan pendapatan fantastis ini mengukuhkan McLaren bukan hanya sebagai kekuatan utama di atas lintasan, melainkan juga mesin bisnis paling bernilai di panggung Formula 1 modern.”
Tuah Tangan Dingin Zak Brown
Kesuksesan komersial ini turut memberikan kompensasi fantastis bagi Sang CEO, Zak Brown. Pria berkebangsaan Amerika Serikat tersebut dilaporkan menerima bayaran mencapai $100 juta tahun lalu, yang dipicu oleh skema buyout saham dari pemilik minoritas tim.
Pencapaian ini menjadi ironi yang manis mengingat kondisi McLaren saat Brown pertama kali mengambil alih kemudi kepemimpinan pada 2017. Kala itu, McLaren sedang berada di titik terendah dalam sejarah mereka.
Dari tim langganan juara, prestasi McLaren terjun bebas ke papan bawah akibat kemitraan mesin yang gagal bersama Honda pada 2015.
Lewat reorientasi manajemen, restrukturisasi sponsor skala global, dan pembenahan performa teknis, Brown berhasil mengubah tim yang terpuruk menjadi raksasa industri olahraga beromzet triliunan rupiah.