Sirkuit Internasional Sepang secara mengejutkan resmi kembali ke kalender Formula 1 akhir pekan mendatang. Namun, comeback mengejutkan ini diwarnai plot unik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah F1.
Bukannya dinamai Malaysian Grand Prix, balapan bergengsi tersebut justru akan mengusung nama resmi Gulf Air Bahrain Grand Prix in Malaysia.
Langkah tak biasa ini diambil karena Pemerintah Bahrain menyuntikkan dana masif untuk menutupi mayoritas biaya penyelenggaraan balapan di Malaysia.
Sebagai informasi, Malaysia yang sempat menjadi tuan rumah reguler sejak 1999 memutuskan mundur dari kalender F1 pasca-musim 2017 akibat lonjakan biaya operasional dan penurunan angka penonton.
Dampak Konflik Geopolitik Timur Tengah
Kehadiran kembali Sepang di kalender F1 tak lepas dari memanasnya eskalasi militer di Timur Tengah. Seri GP Bahrain yang semula dijadwalkan menjadi putaran keempat pada April laluβbersama dengan GP Arab Saudiβterpaksa dibatalkan akibat dampak perang AS-Israel melawan Iran.
Pihak F1 awalnya berencana menjadwalkan ulang GP Bahrain pada slot 4 Oktober. Namun, situasi keamanan yang tak kunjung kondusif membuat rencana tersebut gugur.
Ogah kehilangan jumlah putaran balapan, F1 menerima tawaran Malaysia sebagai tuan rumah pengganti dengan kesepakatan finansial khusus bersama Bahrain.
βKami sangat senang dapat mengonfirmasi bahwa Malaysia akan menjadi tuan rumah untuk Bahrain Grand Prix 2026,β ujar Presiden dan CEO F1, Stefano Domenicali. βSekali lagi, olahraga ini membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi dan menghadirkan solusi. Sepang memiliki tempat spesial dalam sejarah F1.β
Kocok Ulang Kalender dan Plot Balapan Penutup
Masuknya Sepang pada slot 4 Oktober secara otomatis menciptakan rangkaian triple-header (tiga balapan beruntun) yang diapit oleh GP Azerbaijan dan GP Singapura.
Kendati demikian, ketidakpastian masih membayangi seri penutup F1 musim 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Qatar dan Abu Dhabi.
Guna mengantisipasi potensi pembatalan di Timur Tengah, Manajemen Formula 1 (FOM) telah menyiapkan skenario darurat (contingency plan) dengan menunjuk Sirkuit Imola, Italia, sebagai kandidat tuan rumah seri pamungkas.
Langkah skenario darurat ini sangat krusial bagi FOM demi menjaga jumlah kalender F1 tidak merosot di bawah 22 balapanβbatas minimal untuk menghindari pinalti ganti rugi kepada pemegang hak siar global.