JAKARTA – Cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 4,55 juta ton pada Oktober 2026, meningkat sekitar 200 persen dibandingkan posisi Oktober 2023 di tengah ancaman El Niño berintensitas kuat.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman memastikan persediaan tersebut cukup untuk menjaga pasokan pangan nasional dan mengantisipasi potensi kekeringan.
Pemerintah mengklaim telah mempersiapkan cadangan pangan sejak dua tahun terakhir sebagai langkah mitigasi menghadapi fenomena El Niño yang berpotensi mengganggu produksi pertanian.
“Insya Allah, kami sudah persiapkan 2 tahun sebelumnya mengantisipasi El Nino Godzilla. Stok kita banyak, masih melimpah. Stok (Cadangan Beras Pemerintah) kita 4,5 juta ton. Jadi aman,” ujar Amran di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.
Cadangan Beras Meningkat Tiga Kali Lipat
Bapanas mencatat cadangan beras pemerintah pada Oktober 2023 masih berada di angka 1,51 juta ton, sebelum meningkat menjadi 4,55 juta ton pada Oktober 2026.
Peningkatan persediaan tersebut ditopang produksi beras dalam negeri dan penyerapan hasil panen petani untuk memperkuat cadangan nasional.
Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia sepanjang Januari–September 2026 diperkirakan mencapai 28,39 juta ton.
Sementara itu, penyerapan pemerintah setara beras mencapai sekitar 4,1 juta ton atau 14,4 persen dari proyeksi produksi nasional.
Porsi penyerapan tersebut dinilai masih memberikan kesempatan kepada pelaku usaha swasta dan penggilingan beras untuk memperoleh gabah dari petani.
Pemerintah Optimistis Swasembada Pangan Berlanjut
Amran optimistis Indonesia dapat mempertahankan swasembada pangan secara berkelanjutan pada 2026, terutama dengan dukungan produksi domestik dan meningkatnya curah hujan di sejumlah daerah.
“Sekarang sudah mulai hujan. Jakarta sudah mulai hujan. Sulawesi, Maluku juga. Tinggal 2 bulan, insya Allah di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo, Presiden kita yang kita cintai, (akan mencapai) swasembada berkelanjutan,” kata Amran.
Meski demikian, keberlanjutan swasembada pangan tetap bergantung pada realisasi produksi, distribusi, kondisi cuaca, serta kemampuan pemerintah menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen.
Musim Hujan Mulai Meluas pada November 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan mulai meluas pada November 2026 dengan cakupan 185 Zona Musim (ZOM).
Jumlah wilayah yang memasuki musim hujan diprediksi bertambah menjadi 266 ZOM pada Desember 2026, mencakup sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan sejumlah daerah lainnya.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim hujan dengan karakteristik curah hujan normal.
“Musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM (69,76 persen luas daratan Indonesia).”
“Perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55 persen luas daratan Indonesia) karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69 persen) diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering,” kata Ardhasena.
BMKG juga mengingatkan adanya perbedaan karakteristik curah hujan antardaerah sehingga kewaspadaan terhadap kekeringan maupun hujan berlebih tetap diperlukan.
Puncak Musim Hujan Diprediksi pada Desember 2026–Februari 2027
BMKG memperkirakan puncak musim hujan berlangsung bertahap di berbagai wilayah Indonesia, mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.
Sebanyak 155 ZOM diprediksi mencapai puncak musim hujan pada Desember 2026, kemudian 162 ZOM pada Januari 2027 dan 190 ZOM pada Februari 2027.
Perkembangan cuaca tersebut menjadi perhatian karena perubahan curah hujan dapat memengaruhi jadwal tanam, produktivitas pertanian, hingga ketersediaan pasokan pangan.
Selain beras, pemerintah juga menyiapkan sejumlah komoditas strategis untuk menjaga kesinambungan pasokan pangan dan mengantisipasi gangguan distribusi.
Bapanas mencatat cadangan jagung pakan mencapai 84 ribu ton, minyak goreng sebanyak 26 ribu kiloliter yang dikelola Perum BULOG dan ID Food, serta daging ayam sebanyak 39 ton di ID Food.
Untuk komoditas yang relatif mudah rusak, seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, pemerintah mengandalkan produksi dalam negeri yang diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi.
Bapanas optimistis ketersediaan komoditas tersebut tetap terjaga selama produksi berjalan sesuai perkiraan dan distribusi dari sentra penghasil ke wilayah konsumen berlangsung lancar.
Stok Melimpah Perlu Diikuti Stabilitas Harga
Cadangan beras pemerintah sebesar 4,55 juta ton menjadi modal penting untuk menghadapi potensi dampak El Niño dan menjaga ketahanan pangan nasional.
Namun, kecukupan stok di gudang perlu diimbangi distribusi yang merata, penyerapan hasil panen yang berkelanjutan, serta pengawasan harga agar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Perkembangan produksi, realisasi musim hujan, dan pergerakan harga pangan dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi faktor penting dalam mengukur ketahanan pangan Indonesia menjelang 2027.***