Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis penampakan citra satelit terbaru yang memperlihatkan besarnya skala kepulan asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia. Foto dan data atmosfer tersebut diambil menggunakan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) yang terpasang pada satelit NOAA-21.
Dari citra satelit per 16 Oktober 2026 tersebut, terdeteksi sebaran titik-titik merah (hotspot) yang mengindikasikan lokasi kebakaran aktif serta kawasan lahan yang masih membara di daratan Sumatra dan Kalimantan.
Selain tangkapan visual biasa, NASA memaparkan pemetaan Indeks Aerosol (pada gelombang 380nm) untuk mengukur konsentrasi partikel penyerap sinar ultraviolet (UV) di atmosfer—seperti debu, abu, dan partikel asap padat.
“Warna merah paling pekat menandai sebaran asap paling tebal di atas Pulau Kalimantan, sementara warna kuning dan oranye menunjukkan area di mana udara berasap penuh partikel berbahaya telah terdeteksi merambah ke wilayah negara-negara tetangga,” tulis pernyataan resmi NASA pada laman EarthData.
Indeks Aerosol Capai Level Kepadatan Tinggi
Indeks aerosol merupakan skala ukur tanpa satuan (berkisar antara 0 hingga 5). Makin tinggi nilai indeks yang terekam satelit, makin pekat konsentrasi partikel polutan yang melayang di udara.
Dampak dari tingginya indeks aerosol ini berpotensi merusak kesehatan pernapasan masyarakat di daratan serta melumpuhkan jarak pandang (visibility) penerbangan.
NASA menjelaskan bahwa kombinasi faktor iklim—seperti kondisi tanah yang relatif kering, kekeringan berkepanjangan, serta tertundanya musim hujan akibat dampak El Niño—menjadi pemicu utama makin ganasnya karhutla di Indonesia tahun ini.
Data AERONET Darat: Udara Pontianak, Jambi, dan Singapura Nyaris Gelap
Tak hanya dari luar angkasa, pantauan jaringan instrumen darat milik NASA (Aerosol Robotic Network / AERONET) juga mencatat lonjakan drastis pada nilai Aerosol Optical Depth (AOD) di wilayah Pontianak, Jambi, hingga Singapura.
Metrik AOD mengukur sejauh mana partikel polutan di udara menghalangi dan menyerap paparan sinar matahari menuju permukaan bumi:
-
AOD < 0,1: Udara bersih (langit biru cerah, sinar matahari penuh, jarak pandang maksimal).
-
AOD 0,5 – 1,0: Udara mulai kabur dan berkabut asap.
-
AOD > 3,0 (Kategori Ekstrem): Kepadatan partikel aerosol sangat pekat hingga sanggup memblokir sinar matahari dan membuat langit redup/abu-abu pekat.
Tingginya angka AOD di Pontianak, Jambi, dan Singapura membuktikan bahwa krisis kabut asap karhutla saat ini telah mencapai tahap yang membahayakan kesehatan serta meredupkan intensitas cahaya matahari di kawasan tersebut.