JAKARTA – Mantan CEO Nissan, Carlos Ghosn, memberikan komentar tajam terkait rumor merger antara Nissan dan Honda. Ghosn menyebut keputusan tersebut sebagai langkah frustasi dari Nissan, yang tengah bergelut dengan penurunan penjualan.
Dalam kondisi yang terus memburuk, Nissan menghadapi sejumlah tantangan besar, termasuk rencana pemangkasan 9.000 pekerjaan, penundaan peluncuran produk baru, serta pencarian pendukung keuangan untuk menstabilkan operasional perusahaan.
Kabar terbaru yang beredar menyebutkan bahwa Nissan tengah menjajaki kemungkinan merger dengan Honda. Menurut Ghosn, langkah ini menambah masalah bagi Nissan, sementara Honda tampaknya tidak terlalu antusias dengan rencana tersebut.
“Ini adalah langkah putus asa,” ujar Ghosn dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
Ghosn juga menambahkan, “Ini bukan kesepakatan pragmatis karena sinergi antara kedua perusahaan sulit ditemukan. Praktis, tidak ada hubungan yang saling melengkapi antara Nissan dan Honda. Mereka berada di pasar yang sama, dengan produk yang mirip, dan merek yang sangat serupa.”
Menurut Ghosn, situasi ini mencerminkan upaya Nissan yang kehabisan pilihan untuk memastikan masa depannya. Di sisi lain, Honda tampaknya tidak bersemangat untuk terlibat dalam merger tersebut, meskipun tekanan datang dari pemerintah Jepang, melalui Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI).
“Setelah tinggal di Jepang selama bertahun-tahun, saya mengerti betapa kuatnya pengaruh METI,” jelas Ghosn. “Bagi METI, kontrol lebih penting daripada kinerja. Tanpa keraguan, mereka mendorong Honda untuk bergabung dalam kesepakatan ini.”
Nissan kini menghadapi krisis besar di pasar global, terutama di dua pasar utama mereka, China dan Amerika Serikat. Penurunan penjualan yang signifikan tercatat pada paruh pertama tahun fiskal 2024, dengan total penurunan mencapai 3,8%, atau 1,59 juta unit. Penurunan lebih tajam tercatat di China, mencapai 14,3%.
Kondisi ini semakin diperburuk dengan masuknya mobil listrik murah asal China yang menawarkan harga kompetitif dan berhasil merebut pangsa pasar global. Jika tren ini berlanjut, Nissan diperkirakan akan menghadapi utang terbesar dalam sejarah mereka pada 2026, yang bisa mencapai USD5,6 miliar (sekitar Rp85 triliun).
Sebagai langkah penghematan biaya, Nissan juga mengumumkan pemangkasan 9.000 pekerjaan di seluruh dunia, yang diperkirakan akan mengurangi produksi global mereka sebesar 20%. Produksi di AS dan China diperkirakan turun sebesar 15%, sementara produksi di Inggris anjlok hingga 23%. Di sisi lain, produksi di Meksiko mengalami peningkatan 12%, dengan total 70.382 kendaraan.