KOREA SELATAN – Pada Minggu (26/1), Harian Korea JoongAng melaporkan bahwa keluarga korban telah sepakat untuk mengakhiri penyelidikan setelah pihak berwenang merilis rincian tentang serangan burung yang menyebabkan kecelakaan.
Asosiasi keluarga korban mengumumkan keputusan mereka untuk menghentikan pencarian sisa-sisa tubuh atau jenazah.
Pengumuman ini muncul setelah pertemuan kedua di Bandara Internasional Muan, yang tetap ditutup hingga 18 April.
Sisa-sisa jenazah dan barang korban yang belum teridentifikasi telah diserahkan ke Layanan Forensik Nasional untuk identifikasi.
Pihak berwenang mengungkapkan bahwa hasil penyelidikan menunjukkan adanya bulu dan noda darah burung teal Baikal migrasi di kedua mesin pesawat.
“Kami sedang melakukan sinkronisasi dan menganalisis kotak hitam serta rekaman komunikasi kontrol berdasarkan zona waktu untuk memeriksa kondisi pengoperasian pesawat, pengaruh eksternal, dan segala kelainan pada pesawat atau mesin,” ujar seorang pejabat, menambahkan bahwa diperlukan analisis lebih rinci.
Pesawat Boeing 737-800 Jeju Air yang membawa 181 penumpang, termasuk enam awak, jatuh saat mendarat di Kabupaten Muan, 288 kilometer barat daya Seoul.
Kecelakaan yang terjadi pada pukul 9.07 pagi waktu setempat ini menewaskan 179 orang, dan hanya dua pramugari yang selamat.
Kecelakaan ini merupakan yang paling mematikan di Korea Selatan untuk maskapai domestik sejak pesawat Korean Air jatuh di Guam pada 1997, menewaskan 225 orang.
Laporan juga menunjukkan ketiga roda pendaratan pesawat tidak berfungsi dengan baik. Pilot melaporkan tabrakan dengan burung kepada menara pengawas sebelum kecelakaan.
Seorang pejabat Kementerian Perhubungan mengonfirmasi informasi ini.
Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) menyatakan rekaman perekam data penerbangan dan perekam suara kokpit pesawat berhenti sekitar empat menit sebelum pesawat menabrak struktur penentu lokasi.