Deretan rekomendasi klenteng di Jakarta dalam artikel ini bisa menjadi pilihan referensi bagi yang merayakan Imlek di tanggal 29 Januari 2025 nanti.
Merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, yaitu Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri PAN-RB, libur nasional untuk Tahun Baru Imlek 2025 ditetapkan pada 28 dan 29 Januari 2025, bertepatan dengan Selasa dan Rabu.
Ketika Imlek tiba atau menjelang Imlek biasanya umat Tionghoa akan berbondong-bondong menjalankan ibadah atau sembahyang di klenteng.
Saat Imlek, selain melakukan ibadah, umat Tionghoa akan menghias sekeliling klenteng dan bagian dalamnya menggunakan ornamen serba merah dan melambangkan hari raya mereka.
Deretan Rekomendasi Klenteng di Jakarta yang Wajib Dikunjungi Saat Imlek
Klenteng dan kelenteng adalah tempat ibadah umat Tionghoa yang pasti ramai dikunjungi saat hari raya Imlek.
Nah, bagi yang di hari Rabu nanti merayakan Imlek di Jakarta, simak artikel ini selengkapnya untuk mendapatkan rekomendasi klenteng di Jakarta.
1. Klenteng Kim Tek Ie/ Vihara Dharma Bakti
Klenteng Kim Tek Ie, yang juga dikenal sebagai Vihara Dharma Bhakti, adalah klenteng tertua di Jakarta yang didirikan pada tahun 1650. Berlokasi di Jl. Kemenangan III No. 13, Petak Sembilan, Glodok.
Klenteng ini dibangun oleh Kwee Hoen, seorang Letnan Tionghoa, dengan nama awal Kwan Im Teng. Nama tersebut kemudian menjadi asal usul istilah “klenteng” dalam bahasa Indonesia.
Makna nama “Kim Tek Ie” adalah “kebajikan emas,” sebagai pengingat untuk mengutamakan nilai kebajikan di atas materialisme.
Klenteng ini menjadi salah satu rekomendasi klenteng di Jakarta yang wajib dikunjungi saat Imlek karena memiliki artefak sejarah berharga, termasuk patung-patung Buddha kuno, dan menjadi pusat kegiatan ibadah warga Tionghoa, terutama saat Tahun Baru Imlek.
2. Klenteng Ancol/ Vihara Bahtera Bakti
Rekomendasi klenteng di Jakarta selanjutnya adalah Klenteng Ancol atau yang dikenal juga dengan Vihara Bahtera Bakti.
Dahulu, Klenteng Bahtera Bakti Ancol bernama Da Bo Gong, Dewa Air yang dipuja oleh para pelaut sejak zaman Dinasti Song untuk keamanan pelayaran. Namun, karena bentuknya serupa, banyak orang yang menganggapnya sebagai Dewa Bumi.
Klenteng ini berada di luar Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), dengan jarak sekitar 200 meter dari tepi laut.
Klenteng Bahtera Bakti Ancol diperkirakan dibangun pada tahun 1650, bersamaan dengan pendirian Klenteng Jin De Yuan. Kedua klenteng ini merupakan klenteng tertua di Jakarta.
3. Klenteng Lupan
Klenteng Lupan, atau dikenal juga sebagai Lu Ban adalah rekomendasi klenteng di Jakarta selanjutnya yang wajib dikunjungi saat Imlek.
Berlokasi di Jl. Pinangsia 1, dekat dengan LTC Glodok. Klenteng ini dibangun oleh serikat tukang kayu dari Guangdong pada abad ke-19 sebagai penghormatan kepada Lu Ban Gong, dewa pelindung para tukang kayu.
Klenteng ini memiliki sejarah menarik yang mencerminkan keterampilan para tukang kayu Tiongkok yang menetap di Nusantara.
Mereka membawa keahlian luar biasa dalam pengerjaan kayu, yang kemudian diwariskan kepada masyarakat lokal. Klenteng Lupan menjadi simbol perpaduan budaya dan keahlian tersebut.
4. Klenteng Shia Djin Kong
Klenteng Shia Djin Kong adalah rekomendasi klenteng di Jakarta selanjutnya yang juga wajib dikunjungi saat Hari Raya Imlek 2025.
Dibangun pada tahun 1944 oleh Tung Djie Wie, seorang pakar pengobatan tradisional Tionghoa, Klenteng Shia Djin Kong terletak di kawasan pemukiman padat dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Keberadaan klenteng ini menjadi bukti harmoni antarumat beragama di wilayah tersebut.
Yang menarik, beberapa keturunan pendiri klenteng yang telah memeluk Islam tetap aktif menjaga dan mengelola tempat ini. Klenteng Shia Djin Kong menjadi simbol toleransi dan semangat keberagaman yang tinggi.
5. Klenteng Tan Sing Ong/ Vihara Tanda Bakti
Klenteng Tan Seng Ong, yang didirikan pada tahun 1756, terletak di Jl. Kemenangan III Gang 6 No. 97, Blandongan adalah rekomendasi kenteng di Jakarta selanjutnya dalam daftar inu.
Klenteng ini didirikan setelah tragedi berdarah Geger Pecinan, di mana lebih dari sepuluh ribu etnis Tionghoa menjadi korban pembantaian oleh Belanda.
Klenteng ini menjadi rumah bagi Dewa Pelindung Tan Seng Ong dan menjadi tempat peringatan akan perlawanan etnis Tionghoa bersama masyarakat Jawa melawan VOC dalam Perang Sepanjang yang berlangsung selama empat tahun (1740–1743).