TOKYO, JEPANG – Jepang saat ini menghadapi krisis kesehatan ganda, dengan wabah influenza terburuk dalam 25 tahun terakhir dan kasus yang memecahkan rekor sejak 1999. Situasi ini semakin parah akibat kekurangan obat antivirus dan penyebaran flu burung yang mengancam sektor pertanian.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, sekitar 317.812 kasus influenza tercatat di 5.000 institusi medis yang dipantau pada minggu terakhir Desember 2024. Angka ini setara dengan 64,39 pasien per fasilitas kesehatan, lebih dari dua kali lipat ambang batas peringatan nasional sebesar 30 kasus per fasilitas.
Penyebab Lonjakan Kasus
Menurut analisis CGTN, lonjakan kasus influenza ini didorong oleh dua faktor utama: peningkatan mobilitas masyarakat selama musim liburan dan rendahnya paparan terhadap virus flu dalam beberapa tahun terakhir akibat pembatasan ketat selama pandemi Covid-19. Akibatnya, kekebalan alami masyarakat terhadap influenza menurun, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi.
Kekurangan Obat Antivirus
Situasi semakin rumit dengan kelangkaan obat antivirus seperti Tamiflu, yang menjadi andalan dalam penanganan influenza. Perusahaan farmasi besar kesulitan memenuhi permintaan yang melonjak, sehingga beberapa pemasok terpaksa menghentikan distribusi sementara. Diperkirakan pasokan baru akan tersedia antara akhir Januari hingga akhir Februari 2024.
Dampak pada Sektor Kesehatan dan Pertanian
Fasilitas kesehatan di Jepang dilaporkan kewalahan menangani pasien, sementara sektor pertanian juga menghadapi ancaman serius. Wabah flu burung yang melanda negeri Sakura telah memaksa pemusnahan lebih dari lima juta unggas hanya dalam bulan Januari 2024. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran virus ke daerah-daerah penghasil unggas utama.
Imbauan untuk Masyarakat dan turis
Menghadapi krisis ini, pejabat kesehatan terus mendesak warga untuk mengambil langkah pencegahan, seperti mengenakan masker, mencuci tangan secara teratur, dan melakukan vaksinasi influenza. Mereka juga memperingatkan bahwa berbagai jenis flu masih berpotensi menyebar. Bagi pelancong yang berencana mengunjungi Jepang, disarankan untuk tetap waspada, memakai masker, dan memantau kondisi kesehatan secara saksama.
Dengan situasi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Jepang harus bersiap menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks dalam beberapa bulan mendatang.