JATENG – Moeh Ghozali (60) masih tak percaya dengan kejadian tragis yang menimpa keluarganya. Istri tercintanya, Salamah (58), tewas dibunuh oleh anak kandung mereka sendiri, Imam Ghozali (36). Peristiwa mengerikan ini terjadi di rumah mereka di Jalan Gunungsari RT 010 RW 009, Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Semarang, pada Selasa (18/2/2025) malam.
Imam, anak pertama pasangan Moeh dan Salamah, berhasil ditangkap pada Minggu (23/2/2025) setelah beberapa hari buron. Pelaku diketahui sering membuat masalah di lingkungannya, termasuk pernah memicu kemarahan adik-adiknya karena meminta warisan rumah padahal orang tuanya masih hidup.
Tabiat Pelaku yang Bermasalah
Menurut Moeh, Imam seringkali membuat ulah di luar rumah. Bahkan, pelaku pernah nyaris dihajar massa karena perilakunya yang tidak terkendali. “Anak saya bilang dia mau dihajar massa. Dia minta tolong ke ketua RT, tapi tidak ada yang berani menghadapinya kecuali saya,” ungkap Moeh.
Imam, yang masih menganggur di usianya yang ke-36, diketahui sering mabuk-mabukan dan mengonsumsi pil koplo. “Dia bahkan meminta warisan rumah untuk membiayai kebiasaan buruknya,” tambah Moeh.
Moeh Ikhlas Anaknya Dihukum Mati
Sebagai seorang ayah, Moeh meminta agar anaknya dihukum setimpal dengan perbuatannya. “Saya tidak masalah jika dia dihukum seberat-beratnya. Jika perlu, hukuman mati,” tegasnya. Moeh mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut saat terjadi karena sedang bekerja. “Saya baru tahu keesokan harinya pukul 07.30 dari teman yang datang ke tempat kerja saya. Saya langsung pulang karena diberitahu istri saya dibunuh,” kenangnya.
Moeh juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengetahui alasan pasti anaknya membunuh ibunya. “Saya tidak tahu di mana lukanya atau apa penyebabnya. Saya hanya tahu istri saya sudah dibawa ke masjid untuk disalatkan,” ujarnya.
Kronologi Kejadian
Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada Selasa (18/2/2025) sekitar pukul 23.15 WIB. Sejumlah tetangga mendengar teriakan korban meminta tolong. Saat mereka keluar rumah, mereka menemukan Salamah sudah bersimbah darah di teras rumahnya. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Roemani Semarang, namun nyawanya tidak tertolong.
Motif Pembunuhan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, motif pembunuhan diduga karena pelaku marah setelah permintaannya untuk mendapatkan uang tidak dipenuhi oleh ibunya. Imam, yang pengangguran, kemudian menganiaya ibunya dengan menggunakan pisau hingga menyebabkan luka tusuk di tangan, punggung, dan dada korban.
Kapolsek Candisari, Andika, menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami motif pasti di balik pembunuhan ini. “Soal motif masih kami dalami,” ujarnya.
Tragedi ini menjadi pelajaran pahit bagi keluarga Moeh Ghozali. Kejadian ini juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap masalah kejiwaan dan konflik keluarga yang dapat berujung pada tindakan kriminal. Masyarakat diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan perilaku di sekitar mereka untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.