JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan memecat Jenderal Angkatan Udara CQ Brown Jr. dari posisinya sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan. Langkah ini diyakini sebagai bagian dari upaya Trump untuk membersihkan jajaran militer dari para pemimpin yang mendukung program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI). Pemecatan ini dipimpin oleh Menteri Pertahanan Pete Haghseth, yang dikenal sebagai salah satu pendukung setia Trump.
Pemecatan Brown, yang diumumkan pada Jumat (21/2/2025), diprediksi akan menimbulkan gejolak di Pentagon. Selama 16 bulan menjabat, Brown, yang merupakan jenderal kulit hitam kedua yang memimpin Kepala Staf Gabungan, telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk perang di Ukraina dan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump mengucapkan terima kasih kepada Brown atas lebih dari 40 tahun pengabdiannya. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Jenderal Charles ‘CQ’ Brown atas dedikasinya yang luar biasa bagi negara kita, termasuk sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan saat ini. Dia adalah pemimpin yang hebat, dan saya berharap yang terbaik untuknya dan keluarganya,” tulis Trump, seperti dilaporkan *Associated Press*.
Dukungan Brown pada Gerakan Black Lives Matter Jadi Sorotan
Brown dikenal sebagai sosok yang secara terbuka mendukung gerakan Black Lives Matter (BLM) setelah tragedi pembunuhan George Floyd oleh polisi pada 2020. Dukungannya ini membuatnya menjadi target pemerintahan Trump, yang sejak lama menentang apa yang mereka sebut sebagai “wokeisme” di tubuh militer.
Selain pemecatan Brown, Pentagon juga dilaporkan akan memangkas 5.400 pekerja percobaan sipil mulai minggu depan. Selain itu, mereka mengidentifikasi program senilai USD50 miliar yang bisa dipotong tahun depan untuk mengalihkan dana tersebut ke prioritas Trump.
Dan “Razin” Caine Dicalonkan sebagai Pengganti
Trump telah mencalonkan pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Udara Dan “Razin” Caine sebagai pengganti Brown. Caine, seorang pilot F-16 yang pernah bertugas di Garda Nasional, sebelumnya menjabat sebagai direktur asosiasi untuk urusan militer di CIA. Pengalaman militernya mencakup misi tempur di Irak, penempatan operasi khusus, serta keterlibatan dalam program rahasia Pentagon.
Namun, Caine belum memenuhi beberapa persyaratan utama yang ditetapkan oleh undang-undang untuk posisi tersebut, seperti pernah menjabat sebagai wakil ketua, komandan tempur, atau kepala angkatan. Meski demikian, persyaratan ini bisa dikesampingkan jika presiden menilai penunjukan tersebut “diperlukan untuk kepentingan nasional.”
Trump Perkuat Kewenangan Eksekutif di Masa Jabatan Kedua
Dalam masa jabatan keduanya, Trump telah menggunakan kewenangan eksekutifnya secara lebih agresif. Dia telah mengganti banyak pejabat dari era pemerintahan Biden, meskipun beberapa posisi tersebut seharusnya bersifat non-politis dan bisa dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya.
Peran Ketua Kepala Staf Gabungan
Jabatan Ketua Kepala Staf Gabungan dibentuk pada tahun 1949 sebagai penasihat utama presiden dan menteri pertahanan. Tugasnya adalah menyaring informasi dari berbagai kepala angkatan dan menyampaikannya ke Gedung Putih secara efisien. Meski memiliki peran strategis, posisi ini tidak memiliki kewenangan komando langsung atas pasukan.
Analisis: Dampak Pemecatan Brown
Pemecatan Brown menandai babak baru dalam upaya Trump untuk mengubah wajah militer AS. Langkah ini tidak hanya memicu kontroversi di kalangan internal Pentagon tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan program DEI di militer. Dengan menunjuk Caine, Trump tampaknya ingin memastikan bahwa kepemimpinan militer AS selaras dengan visi politiknya.