ARAB SAUDI – Tradisi shalat tarawih kilat di Masjid Nurul Iman di Jogoroto, Jombang, Jawa Timur jadi perhatian salah satu tokoh islam dunia Sheikh Assim. Shalat tarawih kilat 23 rakaat hanya ditempuh kurang dari 10 menit.
Pengurus Masjid Nurul Iman Muhammad Agus menjelaskan bahwa meskipun dilakukan dengan cepat, shalat tarawih kilat tetap memenuhi semua syarat dan rukun shalat sunnah.
“Kami melaksanakan shalat tarawih dengan bacaan cepat dan gerakan kilat, namun semua rukun dan syarat shalat tetap terpenuhi. Tradisi ini sudah berjalan sejak masjid ini didirikan pada tahun 90-an,” ujarnya.
Agus menuturkan tradisi ini justru menjadi magnet bagi warga sekitar maupun pengunjung dari luar daerah.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Bahkan, banyak yang datang dari luar kampung untuk ikut shalat tarawih berjamaah di sini,” tambahnya.
Antusiasme Jamaah dan Tantangan bagi Lansia
Salah satu jamaah, Asdhak Fillah, mengungkapkan bahwa meskipun ada beberapa lansia yang kesulitan mengikuti gerakan cepat, semangat jamaah tetap tinggi. “Kami datang dari berbagai kalangan, baik muda maupun dewasa. Walaupun ada yang tidak bisa mengikuti gerakan dengan sempurna, suasana shalat tarawih di sini tetap sangat menarik dan penuh semangat,” kata Asdhak.
Pandangan Ulama Dunia: Sah atau Tidak?
Tradisi shalat tarawih kilat ini juga menarik perhatian ulama dunia, Syeikh Assim Al Haakem. Dalam sebuah tayangan YouTube channel Kirana Islam berjudul “Syeikh Assim Al Haakem Mengomentari Video dari Indonesia. Ini Sholat atau Balapan Yak?”, ulama asal Arab Saudi ini menyoroti praktik shalat tarawih kilat di Indonesia.
Syeikh Assim Al Haakem mengaku terkejut saat menerima video shalat tarawih kilat dari seorang teman melalui WhatsApp.
“Teman mengirimi saya sebuah pesan WhatsApp hari ini, menunjukkan bagaimana orang shalat di beberapa tempat seperti Turki dan Indonesia. Imamnya membaca Al-Fatihah begitu cepat, sampai-sampai sebagai orang Arab, saya hanya bisa menangkap kata ‘dollin’,” ceritanya.
Ia mempertanyakan sah atau tidaknya shalat yang dilakukan dengan cara demikian. “Imam shalatnya seperti berlari, lebih cepat daripada Tesla. Bagaimana mungkin shalat dilakukan seperti ini? Shalat ini tidak sah, baik bagi imam maupun makmumnya. Mereka tidak memiliki ketenangan dalam shalat,” tegas Syeikh Assim Al Haakem.
Shalat tarawih kilat di Masjid Nurul Iman, Jombang, menjadi tradisi unik yang menarik perhatian banyak orang.
Meskipun menuai pro dan kontra dari ulama seperti Syeikh Assim Al Haakem, antusiasme jamaah tetap tinggi. Bagi warga sekitar, tradisi ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga bagian dari budaya dan kebersamaan yang khas di bulan Ramadhan.