TEHERAN – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat di bawah ancaman.
Dalam pernyataan keras yang dilaporkan oleh media pemerintah Iran pada Selasa, Pezeshkian secara tegas menantang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Tidak dapat diterima bagi kami jika mereka (AS) memberikan perintah dan mengancam kami.”
“Saya bahkan tidak akan bernegosiasi dengan kalian. Lakukan saja apa yang kalian mau,” kata Pezeshkian dilansir Reuters, Selasa (11/03/2025).
Ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan atau paksaan untuk bernegosiasi.
Pernyataan ini disampaikan sehari setelah Trump mengklaim telah mengirimkan surat kepada Iran guna mendorong pembicaraan terkait kesepakatan nuklir baru.
Trump Kembali Terapkan Tekanan Maksimal
Sejak kembali mencalonkan diri sebagai Presiden, Trump menghidupkan kembali kampanye “tekanan maksimal” terhadap Iran.
Strategi ini bertujuan untuk semakin mengisolasi Teheran dari perekonomian global serta menekan ekspor minyaknya hingga ke titik nol.
Dalam wawancara dengan Fox Business pekan lalu, Trump menegaskan bahwa ada dua cara untuk menangani Iran: melalui aksi militer atau melalui kesepakatan diplomatik yang memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Namun, Iran telah berulang kali membantah tuduhan bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir.
Meski demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan bahwa Teheran telah mempercepat pengayaan uranium hingga tingkat kemurnian 60%, mendekati standar 90% yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Iran meningkatkan aktivitas nuklirnya sejak 2019, satu tahun setelah Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan enam kekuatan dunia.
Keputusan itu diikuti dengan pemberlakuan kembali sanksi yang melumpuhkan ekonomi Iran.***
