TOKYO – Di tengah guncangan pasar global akibat kebijakan dagang Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menyatakan kesiapannya untuk kembali duduk satu meja dengan Trump. Misinya jelas, membela kehormatan Jepang dalam perdagangan internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Ishiba pada Senin (7/4/2025) dalam sidang parlemen, merespons tekanan tarif timbal balik yang dinilai bisa mengguncang ekonomi Jepang.
“Kita harus menyampaikan secara menyeluruh apa yang akan kita lakukan,” tegas Ishiba.
“Dan yang paling penting, memastikan bahwa Jepang tidak melakukan tindakan merugikan siapa pun.” tambahnya
Pernyataan ini menjadi respon atas tuduhan Trump sebelumnya yang menuding mitra dagang AS, termasuk Jepang, “memeras” negaranya, dengan dalih defisit neraca perdagangan yang besar.
Langkah Trump memberlakukan tarif timbal balik sebesar 10 persen terhadap semua mitra dagang, dengan tambahan 14 persen khusus untuk Jepang, langsung berdampak besar. Indeks Nikkei jatuh nyaris 3.000 poin, menunjukkan sinyal kuat betapa sensitifnya ekonomi Jepang terhadap keputusan sepihak Washington.
Bukan cuma pasar yang terguncang, para investor juga turut cemas. Untuk menangani hal tersebut, Menteri Keuangan Katsunobu Kato bahkan sampai harus turun tangan mengimbau agar publik tetap tenang.
Di sisi lain, Trump tampak santai. Saat berbicara dari pesawat kepresidenan Air Force One, ia bahkan hanya mengatakan, “Kadang, Anda harus minum obat pahit untuk menyembuhkan sesuatu.”
Melihat kekacauan tersebut, Shigeru Ishiba memiliki strateginya sendiri. Ia telah memerintahkan pengawasan ketat terhadap pasar keuangan dan meminta kabinetnya untuk siap mengambil tindakan responsif.
Tak hanya itu, pertemuan darurat kabinet juga telah digelar pada Minggu (6/4), menghadirkan Menkeu Kato, Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi, dan Menteri Revitalisasi Ekonomi Ryosei Akazawa.
Meski belum ada kepastian soal jadwal pembicaraan langsung dengan Trump, Ishiba menegaskan keinginannya untuk membuka jalur komunikasi, baik secara langsung maupun lewat sambungan telepon.
“Kami ingin memastikan bahwa investasi Jepang di AS telah berkontribusi positif , termasuk dalam menciptakan lapangan kerja,” katanya.
Tarif yang dikenakan AS diyakini akan paling berat dirasakan oleh sektor usaha kecil dan menengah (UKM) Jepang. Ishiba menegaskan, pemerintah akan melakukan segala cara untuk melindungi pembiayaan dan lapangan kerja, serta menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Sementara itu, pemerintah Jepang melalui Hayashi menyampaikan komitmen untuk terus memantau situasi dengan “rasa urgensi tinggi,” serta menjaga kebijakan fiskal dan moneter agar tetap adaptif.