SUMEDANG — Keterlibatan peternak sapi perah dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dampak positif tidak hanya bagi kesehatan anak-anak, tetapi juga bagi para pelaku usaha ternak di daerah. Salah satunya dirasakan oleh Sandi Andriana, peternak di Jatinangor, Sumedang, yang merasa bangga hasil produksi susunya kini terserap secara pasti.
Sandi mengaku telah berkecimpung di dunia peternakan sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Berasal dari keluarga peternak sapi perah, ia melanjutkan pendidikan formal di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, angkatan 2006 dan lulus tahun 2011.
“Perasaannya sih senang bisa ikut serta, salah satunya mencerdaskan anak-anak terutama ini program pemberian susunya, gitu salah satunya ya senang,” ujar Sandi saat ditemui di peternakan Nusa Dairy Indonesia, Jumat (18/8/2025).
Menurut Sandi, sejak pelaksanaan MBG, susu dari peternak lokal seperti dirinya tidak hanya terserap maksimal, tetapi juga dihargai lebih layak. Harga jual susu yang semula Rp7.000 per liter kini naik menjadi Rp10.000.
“Otomatis kan ada nilai harga jual, nilai tambah lebih dari yang sebelum ini. Bangga jadi lulusan peternakan sih, walaupun banyak teman-teman lainnya memilih kerja kantoran,” katanya.
Saat ini, Sandi mengelola peternakan bersama dua pekerja lain yang sebelumnya merupakan petani serabutan. Kini, keduanya memiliki penghasilan tetap dan kejelasan pekerjaan.
“Di sini tenaga kerja salah satunya ada dua orang lagi. Mereka awalnya petani serabutan karena bekerja juga di sini dari pendapatannya sudah jelas. Kemungkinan ke depannya seiring sapi bertambah juga tenaga kerja kita nambah lagi,” ungkapnya.
Produksi susu dari peternakan tempat Sandi bekerja diserap oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Cimahi melalui kerja sama dengan Koperasi Jagri. Saat ini, SPPG melayani 3.500 siswa dengan distribusi susu sebanyak tiga kali sepekan. Setiap distribusi membutuhkan sekitar 370 liter susu, sementara produksi harian saat ini baru mencapai 150 liter.
“Untuk 3.500 siswa itu yang dibutuhkan 370 liter, sedangkan populasi susu yang diproduksi dari sapi di daerah sini hampir 150 liter. Melihat peluang ini, kita akan berusaha untuk menambah populasi sapi sesuai kapasitas kandang, agar menyerap tenaga kerja lokal lebih banyak dan pemenuhan kebutuhan koperasi yang berkelanjutan,” jelas Sandi.
Ia menambahkan, kolaborasi antara SPPG dan koperasi dalam mendukung MBG membawa dampak besar bagi pengembangan UMKM serta peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
“Warga di sini awalnya petani serabutan. Setelah ada program ini, kami rekrut bekerja di sini. Dampak (Program MBG) ada peningkatan tenaga kerja dan perekonomian masyarakat,” tutupnya.