JATIM — TNI AL menunjukkan komitmennya dalam memajukan nilai kemanusiaan dan nasionalisme maritim, kali ini lewat program inklusif bertajuk Naval Historical Diver (NHD). Diselenggarakan oleh Dinas Sejarah TNI AL (Disjarahal) bekerja sama dengan Komunitas Mata Hati, kegiatan ini menghadirkan pelatihan selam khusus untuk penyandang disabilitas tunanetra, yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur.
Dengan mengusung tema “TNI AL Menyelam dengan Mata Hati”, program ini tidak hanya mengajak peserta menjelajahi dunia bawah laut, tetapi juga meresapi semangat perjuangan sejarah TNI AL. Kegiatan dibagi dalam dua sesi: edukasi sejarah dan pelatihan menyelam.
Jejak Sejarah TNI AL Dikenalkan Lewat Sentuhan dan Narasi Audio
Di sesi pertama, para peserta diajak menelusuri sejarah kejayaan TNI AL melalui pendekatan multisensori di Museum Pusat TNI AL (Muspusal). Pendekatan khusus seperti pemandu pribadi, narasi audio, dan eksplorasi artefak militer secara langsung — mulai dari torpedo, meriam, ranjau laut hingga peluru kendali — membuat para peserta bisa “melihat” dengan indera lain.
Tak hanya itu, suasana pertempuran laut dihadirkan lewat wahana imersif yang membuat museum menjadi ruang belajar yang menggugah rasa nasionalisme, bahkan bagi mereka yang tidak melihat dengan mata.
Belajar Menyelam Ala TNI AL, dengan Isyarat Suara
Sesi kedua berlangsung di Kolam Renang Jala Krida Tirta Akademi TNI AL (AAL). Di sinilah para penyandang disabilitas tunanetra merasakan pengalaman langka: pelatihan menyelam seperti layaknya prajurit TNI AL. Dipandu langsung oleh instruktur dari NHD Disjarahal yang dikomandoi oleh Letkol Laut (P) Yudho Ponco, mereka mempelajari teknik dasar menyelam seperti bubble maker (bernapas dalam air), hingga metode komunikasi bawah air menggunakan suara, menggantikan isyarat tangan yang lazim digunakan.
Peserta juga dibekali pelatihan adaptasi dengan lingkungan air melalui peningkatan kepekaan indra, menjadikan pengalaman selam ini aman, edukatif, dan tetap mempertahankan esensi latihan militer dasar.
Empat Peserta Tunanetra, Empat Bukti Semangat Tanpa Batas
Kegiatan ini diikuti oleh empat orang penyandang tunanetra bersama relawan pendamping dari Komunitas Mata Hati. Meski dengan keterbatasan fisik, semangat mereka untuk mengenal sejarah dan laut tak surut. Semuanya berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh semangat.
Kadisjarahal Laksamana Pertama TNI Dr. Hariyo Poernomo, saat membuka acara, menekankan bahwa kegiatan ini dirancang untuk “menumbuhkan kesadaran sejarah, meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian, serta memberikan pengalaman menjelajahi dunia bawah air bagi penyandang disabilitas tuna netra.”
Bukan Sekadar Bela Negara, TNI AL Juga Menjaga Nilai Kemanusiaan
Program ini sekaligus menegaskan peran TNI AL tak hanya sebagai garda pertahanan laut, tetapi juga agen sosial yang hadir untuk semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Hal ini sejalan dengan arahan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, yang mendorong TNI AL agar aktif berkontribusi dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.